logo CNN Indonesia
rizky.sekar

Mengawali karier di tabloid hiburan Surabaya, lalu terbawa arus ke Jakarta. Berbekal ilmu komunikasi semasa kuliah, terjun ke media online sejak tiga tahun belakangan.

Ribut-ribut 4,5 Menit Gay di 'Beauty and the Beast'

, CNN Indonesia
Ribut-ribut 4,5 Menit Gay di 'Beauty and the Beast'
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum sutradara Bill Condon buka suara soal konten gay awal Maret lalu, pembicaraan soal Beauty and the Beast hanya berkisar pada lagu, busana, cerita, dan bagaimana Emma Watson bisa menyanyi atau berakting kompak dengan Dan Stevens.

Orang sudah antusias saat Celine Dion diberitakan tetap menyumbang suara atau akan ada duet Ariana Grande dengan John Legend.

Tapi ucapan Condon mengubah segalanya. Sejak ia mengaku kepada media bahwa LeFou memendam perasaan terhadap Gaston, dunia langsung ribut. Rusia—yang punya aturan melarang kampanye pro-gay—jadi negara pertama yang berniat melarangnya. Belakangan, Rusia hanya memberlakukan batasan usia—di atas 16 tahun—dan membolehkan film itu ditayangkan.

Aturan negara tak mempan, alasan agama dikerahkan. Bioskop di Alabama menolak memutarnya. Maklum, Alabama dikenal dengan Kristen konservatif. Umat Kristen di negara bagian lain di Amerika Serikat juga ada yang menyerukan boikot terhadap film adaptasi animasi Disney 1991 itu.

Menjelang pemutarannya akhir pekan ini, pembicaraan semakin larut. Asia yang kini ribut.

Singapura, negara yang modern dari berbagai bidang tapi tetap knservatif soal LGBT itu, meloloskan Beauty and the Beast dengan label PG—Parental Guide. Meskipun, ada pula penolakan dan ajakan boikot resmi dari Keuskupan Gereja Anglikan di Negeri Singa itu.

[Gambas:Youtube]

Singapura punya aturan soal LGBT. Seks sesama jenis dianggap sebagai perbuatan kriminal. Itu berdasarkan aturan zaman kolonial yang disebut Section 377A. Pemerintah menyebut itu tak dijalankan lagi, namun para pemimpin, termasuk Perdana Menteri Lee Hsien Loong menganggapnya harus tetap ada.

Itu yang membuat Adam Lambert tak boleh masuk Singapura pada tahun baru lalu, padahal ia diundang menghibur. Citranya dianggap ‘terlalu gay.’

Hong Kong, 'same same but different.' Negara itu tak lagi punya aturan kolonial yang menentang gay karena telah dihapuskan oleh Dewan Legislatif pada 1991. Badan sensor setempat pun menempatkan Beauty and the Beast sebagai film untuk segala umur.

Keputusan itu jelas membuat ‘marah’ kelompok anti-LGBT. Mereka membuat petisi yang menentang itu.

[Gambas:Video CNN]

Di luar dugaan, Indonesia justru adem ayem. Tenang-tenang saja. Lembaga Sensor Film (LSF) meloloskan Beauty and the Beast, tanpa pemotongan maupun pengebluran, sudah sejak lama. Belakangan film itu kembali ditonton bersama dalam pleno, karena ribut-ribut soal konten gay. Tapi LSF tetap meloloskannya karena konten yang diributkan itu tak terlihat.

Tidak ada aturan soal LGBT memang di Indonesia. Tapi, Indonesia punya kelompok Islam garis keras yang bisa ‘menyensor’ segalanya: buku, kegiatan, pencalonan kepala daerah, peredaran majalah dewasa, distribusi minuman beralkohol, pembukaan kelab malam, apalagi cuma film.

Sejauh ini soal Beauty and the Beast, mereka masih belum bersuara.

Keributan paling riuh justru terjadi di Malaysia. Badan sensor setempat memutuskan memotong adegan gay dari film itu. Tapi Disney bersikeras adegan itu harus ada. Alhasil, Beauty and the Beast tak jadi tayang di sana. Kalau sudah begitu, banyak orang kecewa.

LGBT memang ilegal di Malaysia. Hukumannya bisa sampai 20 tahun penjara. Bisa juga dirajam. Tak pandang bulu.

Anwar Ibrahim, mantan deputi perdana menteri Malaysia pernah dipenjara lima tahun dengan tudingan menyodomi pembantu prianya. Ini dua kali dalam dua dekade ia diberi tudingan yang sama, entah ditunggangi kepentingan politik atau tidak.

Tapi se-gay apa sebenarnya Beauty and the Beast? Condon bilang, “Momen yang menyenangkan dan eksklusif.”

LeFou (diperankan Josh Gad) di satu hari merasa ingin menjadi Gaston (Luke Evans), tapi di hari lain juga ingin menciumnya. Si kaki tangan merasa kagum karena Gaston begitu berkharisma, meski sang bos sendiri rela membunuh hanya demi Belle (Emma Watson).

[Gambas:Youtube]

Jelas, tak ada kaitannya dengan seksualitas. Itu hanya soal kekaguman, yang mungkin bisa berubah menjadi cinta. Perasaan yang natural dan wajar. Tak ada adegan ciuman sungguhan. Toh, Gaston mencintai Belle. Yang bisa diterjemahkan sebagai adegan gay, hanya pancaran sinar kekaguman LeFou terhadap Gaston. Ditambah, katanya, ada adegan menari bersama pria.

Sekali lagi, tak ada ciuman, apalagi bermesraan di ranjang. Adegannya pun hanya 4,5 menit.

Lantas apa yang menjadi masalah? Orang tua dan umat Kristen konservatif, mungkin merasa Disney—yang selama ini dipercaya sebagai penyedia film anak yang mendidik—kini ‘mengkhianati’ mereka dengan mengajarkan anak-anak soal LGBT bahkan sejak sangat belia.

Tapi faktanya, LGBT memang ada di masyarakat. Dunia mulai terbuka. Beberapa negara bahkan mulai melegalkannya. Bukankah anak-anak harus tahu itu sejak dini pula, agar mereka tak kaget nantinya? Dan bukankah bertoleransi serta menerima adalah nilai-nilai yang baik?

Ditambah lagi, adaptasi Beauty and the Beast bukan film animasi lagi. Ini live-action. Tokohnya manusia sungguhan. Pemainnya berusia di atas 20-an. Ceritanya pun dibuat lebih kompleks. Disney sedang rajin-rajinnya membongkar kembali cerita klasik dan membuatnya jadi live-action, untuk menggaet penonton dewasa. Menyingkirkan citra Disney film anak.

Artinya, ini memang bukan film anak. Kalau orang tua mengajak bayi ke bioskop menonton Beauty and the Beast lalu protes ada adegan gay, bukan filmnya yang salah. Lagipula, beberapa negara sudah memberi label ‘parental guide’ atau ‘bimbingan orang tua.’ Tugas orang tua mengajari anaknya lewat film, jangan lepaskan itu begitu saja pada sutradara.

[Gambas:Youtube]

Dimunculkannya karakter atau momen gay oleh Disney, tak lepas dari ‘tuntutan’ masyarakat. Seiring merebaknya LGBT, kelompok pro-LGBT pun meminta rumah-rumah produksi film besar Hollywood memasukkan karakter mereka ke dalam karyanya.

Masih ingat bagaimana Elsa (Frozen) diminta punya kekasih wanita atau Captain America disarankan menjalin kasih dengan pria?

Beauty and the Beast mungkin menjadi wadah ketika Disney sudah sampai pada satu titik keputusan: LGBT harus diakomodasi lewat film.

Mereka pernah mencoba lewat Finding Dory—memunculkan pasangan lesbian di kebun binatang. Mungkin itu ‘cek ombak.’ Ketika respons-nya positif, Disney mulai berani. Mereka membuat adegan dan karakter gay resmi pertama.

Selalu ada yang pertama untuk segalanya. Dan selalu ada kontroversi di setiap yang pertama. Beauty and the Beast ini contohnya. Tapi seharusnya Disney pun tak perlu terlalu memaksakan kehendak. Tidak semua orang dan negara bisa menerima konten gay itu.

Disney, di satu sisi, perlu menghormati keputusan setiap bioskop (mau memutar atau tidak), orang (mau menonton atau tidak), dan negara (mau menyensor atau tidak). Semua punya kehendak masing-masing. Kalau Malaysia punya aturan yang harus memotongnya, Disney tak perlu memaksa, lebih baik tak ditonton sama sekali daripada konten gay itu dipotong.

Beauty and the Beast bukan sekadar soal konten gay. Itu hanya karakter dan adegan minor. Ada pesan yang jauh lebih besar yang disampaikan lewat si cantik dan si buruk rupa itu sendiri. Ada lagu-lagu romantis yang masih bisa didengar. Banyak hal yang bisa dinikmati.

Malaysia mungkin bukan pasar terbesar bagi Disney di Asia, sehingga mereka lebih memilih mencabut filmnya ketimbang dipotong 4,5 menit.

Tapi Malaysia tetap bisa menjadi penonton setia. Kalau Disney bersikap tegas sekarang, bukan tidak mungkin Malaysia tak setia lagi pada mereka di masa depan. Bukankah lebih baik ikuti dulu aturan mainnya, baru di kesempatan yang tepat Disney berbalik jadi ‘pengatur’ selera Malaysia?

Artikel Lainnya
0 Komentar
Terpopuler
CNN Video