Gary yang lahir di Perancis, pertama kali menginjakkan kaki di Bali saat berusia sembilan tahun. Sejak saat itu pula ia jatuh cinta dengan Pulau Dewata. Pada usia 15 tahun, Gary mendirikan Make a Change Bali –organisasi yang memiliki misi melindungi dan melestarikan lingkungan Bali dengan mengedukasi warga dan membaur bersama komunitas lokal.
Kini di usia 21 tahun, Gary terlibat aktif dalam aksi Tolak Reklamasi yang ia sebut sebagai “Salah satu gerakan lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia.” Hingga saat ini petisi online terkait Tolak Reklamasi di Change.org didukung sekitar 38 ribu orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Youtube]
Namun untuk mewujudkan zona eksklusif nan mewah tersebut, ujar Gary, kawasan konservasi Teluk Benoa mesti dihancurkan sehingga berpotensi menimbulkan gangguan serius terhadap lingkungan dan warga setempat.
“Berada 12 ribu jauhnya dari Bali, hanya sedikit yang bisa saya lakukan untuk Bali. Dengan membuat film ini, saya berharap dapat menunjukkan bahwa pertarungan di Bali adalah universal. Kami berjuang untuk melestarikan budaya. Kami tak sanggup kehilangan identitas sejati Bali,” kata Gary dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com.
Dua episode The Reclamation yang berikutnya akan dirilis dua bulan setelah episode pertama Bali vs. Mass Development.
Hari ini, Minggu (13/3), aksi Tolak Reklamasi digelar seribu orang di Legian, Kuta, Bali. Mereka mengenakan pakaian adat dan membawa poster-poster berbagai ukuran bertuliskan “Legian Tolak Reklamasi Teluk Benoa”.
Sampai saat ini rencana reklamasi teluk Benoa belum terwujud karena terhambat soal analisis dampak lingkungan (AMDAL). PT Tirta Wahana Bali mengatakan siap menyempurnakan dokumen AMDAL tersebut. (agk)