"Bangunlah kaum yang tertindas, bangunlah kaum yang lapar...," pekik massa menyanyikan lagu tersebut sambil mengangkat tangan kiri mereka, di depan kantor Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta Pusat, Minggu (1/5).
Lagu yang diciptakan Eugene Pottier pada 1871 ini telah diterjemahkan dalam banyak bahasa di dunia. Terjemahan pertama ke dalam Bahasa Indonesia dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ogoh-ogoh itu sebagai wujud koruptor dan musuh rakyat yang harus dikurung di penjara. Mereka harus dihancurkan," kata dinamisator lapangan KASBI, Sarman saat ditemui usai aksi.
Sebelumnya, sejumlah buruh menggelar aksi teaterikal, di mana ada tiga orang buruh yang dikurung dalam replika penjara lantaran memperjuangkan haknya. Kemudian sejumlah buruh mematahkan jeruji dan membebaskan buruh yang ditahan. (gir)