"Polri saja banyak musuhnya. Politik itu lebih banyak lagi musuhnya. Saya tidak tertarik politik, saya hanya tertarik ke dunia pendidikan," kata Tito dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, Senin (17/7).
Sebelum menjabat sebagai pimpinan Polri, Tito menempuh pendidikan di Nanyang Technological University, Singapura dan meraih gelar Doktor di bidang Studi Stratejik, peminatan Terorisme dan Radikalisasi Islam. Ia meraih gelar magna cumlaude saat lulus di tahun 2013.
Lihat juga:Tito Karnavian dan Rencana Pensiun Dini |
"Inshaa Allah akan tetap konsisten seperti itu. Setelah saya kembali ke dunia pendidikan membuat saya lebih rileks dan lebih dekat dengan keluarga," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menekankan, isu tentang pensiun dini muncul setelah ia diwawancara dalam suatu acara televisi. Tito mengaku, ia memang tidak pernah meminta daftar pertanyaan agar jawaban yang ia lontarkan spontan dan objektif.
Tito menambahkan, ia ingin memberi kesempatan kepada kandidat lain untuk mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia. Tugas yang ia jalani sejak menjabat sebagai Kapolri per tanggal 13 Juni 2016.
"Menjadi Kapolri adalah pekerjaan paling stres di dunia karena Polri adalah lembaga kepolisian terbesar nomor dua di dunia, setelah China, India, dan Amerika," akunya.
Dikatakan Tito, Indonesia sebagai negara demokrasi sekaligus memicu banyak masalah yang berujung keamanan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kapolri ke depannya. (evn)