logo CNN Indonesia

Penjelasan Dua Kegagalan Pesawat Lokal Tembus Stratosfer

, CNN Indonesia
Penjelasan Dua Kegagalan Pesawat Lokal Tembus Stratosfer Ekspedisi Menembus Langit yang menerbangkan pesawat nirawak UAV Ai-X1. (Dok. Menembus Langit)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesawat UAV Ai-X1 yang digarap oleh AeroTerrascan asal Bandung memang telah melalui dua penerbangan menuju bagian atas stratosfer Bumi. Sayangnya dua misi tersebut gagal capai target. Apa penyebabnya?

Wahana nirawak Ai-X1 sejak awal menargetkan bisa tembus di ketinggian 30 kilometer stratosfer teratas Bumi saat diluncurkan dari Pamengpeuk, Garut pada 28 Oktober lalu.

Setelah alami kegagalan, proyek bernama Menembus Langit ini mencoba kembali keesokan harinya di tempat yang sama. Hanya berhasil mencapai 19 kilometer, Ai-X1 harus kembali mendarat karena ada gangguan teknis.

Azhar Pangesti selaku Program Director Menembus Langit mencoba menjelaskan penyebab utama dari dua kegagalan yang harus diterima timnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, pada misi peluncuran pertama, Ai-X1 harus mendarat lebih cepat saat baru mencapai 10 kilometer.

Kala itu, sistem GPS mengalami kerusakan setelah melewati kumpulan awan hitam. Terkecoh, mesin pesawat pun langsung berubah menjadi fail safe.

Nah, pada misi peluncuran kedua, tim Menembus Langit diakui Azhar telah melakukan modifikasi minor pada GPS.

Sayangnya, di ketinggian 19,376 kilometer, Ai-X1 kembali mengalami gangguan pada sistem GPS yang lebih parah dibanding sebelumnya.

"Di hari kedua terjadi GPS glitch lagi seperti yang [peluncuran] yang pertama, tapi kali ini tidak terkoneksi kembali," terang Azhar saat ditemui CNNIndonesia.com, di Bandung.

Azhar mengibaratkan proses tersebut seperti halnya seseorang yang ingin mengirimkan lokasi via Google Maps namun belum terkunci secara akurat.

Kegagalan sistem GPS yang kedua kali menurut Azhar, justru terjadi setelah mereka memodifikasi GPS pesawat berdasarkan analisis evaluasi glitch atau gangguan di hari pertama.

Program Director Menembus Langit, Azhar Pangesti. (Dok. Istimewa)Program Director Menembus Langit, Azhar Pangesti. (Dok. Istimewa)
Dari situ, Azhar dan tim menduga sensor GPS hasil modifikasi itu tidak sanggup dengan kondisi ekstrem di stratosfer dan adanya es yang menempel di antena.

Sekadar diketahui, suhu di lapisan stratosfer Bumi bisa mencapai -5 derajat Celsius.

"Bedanya, di hari pertama itu GPS glitch. Sedangkan hari kedua, GPS-nya no fix atau fail. Hal ini memicu pesawat melepaskan diri dari balon helium," sambungnya.

Pemisahan diri pesawat Ai-X1 dengan balon udara helium yang mengangkutnya ke angkasa pun juga dipercaya Azhar berakar pada dua hal.

"Pertama, icing hasil dari cuaca yang dilewati pesawat atau memang pesawatnya tidak cukup kuat di ketinggian itu," lanjutnya.

Azhar pun menekankan, biang keladi kegagalan mencapai target 30 meter itu hanya berasal dari GPS. Sedangkan seluruh komponen elektronik pada wahana nirawak itu diklaim berjalan dengan baik.


Pesawat yang memiliki lebar satu meter dan panjang 60 sentimeter itu hingga kini masih tidak diketahui lokasinya setelah ia mendarat tanpa balon helium.

Dari hasil gambar yang tersambung terakhir pukul 08.17 WIB, pesawat berhasil mendarat utuh di permukaan tanah dengan perkiraan radius 500 m dari lokasi seharusnya.

Tim Menembus Langit mengaku masih dalam tahap pencarian dan telah meminta bantuan personel LAPAN serta warga setempat untuk mencarinya.


Tak Kapok Pakai Balon Helium

Setelah alami dua kegagalan mencapai target ketinggian yang diinginkan, tim Menembus Langit tetap optimis untuk mewujudkan tujuan semula.

Lantas, jika membayangkan prosedur penerbangan selanjutnya, apakah ada perubahan?

Azhar mengaku, timnya tetap mempercayakan proses penerbangan pesawat nirawaknya pada balon udara helium.

"Kalau misalnya pakai roket, waktunya tidak ada. Lagipula dari segi biaya, keamanan, dan persiapan, balon udara jauh lebih baik untuk misi ini," ungkapnya.

Ia kemudian menyambung, "selebihnya kita agak apes sebab sensor GPS yang kita pakai sebelumnya tak pernah ada masalah sampai hari lepas landas."

Meski puas dengan pencapaian ke stratosfer di ketinggian 19 km, Azhar mengaku masih merasa berutang dengan target ketinggian ideal mereka di 30 kilometer.

Untuk itu, Azhar dan tim Menembus Langit berencana "balas dendam" dengan kembali meluncurkan proyek serupa dengan data yang berhasil terkumpul.

"Yang didapat dari lepas landas kemarin adalah hasil penghitungan hampir sama persis dengan yang di lapangan. Itu sangat penting untuk pengembangan pesawat berikutnya karena kita tahu metode yang benaru untuk merancang pesawat selanjutnya," tutup Azhar. (hnf/tyo)

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Mimpi Pesawat Nirawak Lokal Menembus Langit
0 Komentar