Beberapa negara maju mulai menerapkan bantuan teknologi untuk menentukan hasil pemilihan dengan lebih cepat. Voting elektronik (e-vote) umumnya diadopsi untuk menentukan pemilihan suara dalam skala besar dengan dimediasi komputer.
Pemberi suara bisa menyalurkan pilihan dengan lebih mudah setelah dibekali petunjuk pemilihan suara. Voting elektronik dinilai mempercepat proses pemilihan suara dengan cara memproses tahapan pemilu mulai dari pembuatan ballot yang memuat daftar nama kandidat, penyerahan ballot untuk dipilih, perekaman ballot untuk mencatat hasil perolehan suara, hingga tabulasi atau pendataan jumlah suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tipe pemilu kedua yakni e-voting tidak mengandalkan koneksi internet, tetapi menggunakan perangkat khusus untuk mengumpulkan dan mendata suara dari masing-masing kandidat.
Mengutip situs Massachusets Institute of Technology Science Lab, setidaknya ada empat tipe voting elektronik yang pernah ada. Di era 1890-an, digunakan mesin dengan mekanisme tuas untuk membantu pemilih memberikan suara.
Di dalam mesin tersebut pemberi suara tidak bisa memberikan suara terlalu banyak. Ketika proses penyampaian suara selesai, Anda cukup menaruh pilihan. Sebuah tuas besar akan menyimpan data pilihan, sementara mesin bisa digunakan oleh pemberi suara berikutnya.
Kertas yang dilubangi berfungsi sebagai suara yang diberikan oleh pemilih. Mesin dengan konsep yang serupa dengan pengoreksi jawaban dalam ujian juga turut digunakan untuk mempermudah pendataan suara masing-masing kabinet.
Generasi berikutnya merupakan mesin bernama direct-recording electronic (DRE). Mesin ini awalnya muncul sebagai rupa digitalisasi dari mesin voting tuas yang digantikan dengan tombol. Seiring waktu, DRE semakin canggih hingga penghitungan mekanikal digantikan dengan data digital dan tombol digantikan dengan layar sentuh.
Lihat juga:Di Balik Tinta Pemilu 2019 |
Proesor David Dil dari Stanford University menolak DRE sebagai instrumen pemungutan suara tanpa disertai dokumen penunjang keaslian suara. Pada akhirnya mesin ini dilengkapi dengan voter-verifiable paper audit (VVPAT) yang menjadi catatan penunjang bukti pengambilan suara.
Kendati menuai beragam kontroversi, kemunculan mesin-mesin ini mampu menjembatani masyarakat yang memiliki keterbatasan. Hanya di satu sisi, perlu pengawasan ketat untuk menekan kemungkinan beragam bentuk kecurangan.
[Gambas:Video CNN]
(lea/evn)