Dalam pelaksanaan upacara kematian Suku Lani, kepercayaan prasejarah masih kuat, hal ini tercermin dalam kepercayaan terhadap roh leluhur. Makna religius dari upacara kematian adalah membantu roh orang yang meninggal agar ia dapat pergi ke dunia roh dengan baik.
Upacara kematian ini dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan kosmos yang diharapkan dapat memberikan keselamatan baik kepada roh si mati maupun terhadap manusia yang ditinggalkan. Tradisi kematian suku Lani yaitu proses dan tahapan pembakaran mayat. Sebelum pembakaran mayat, terlebih dahulu dilakukan pesta bakar batu. Jumlah babi yang dibunuh secara langsung menjadi tolok ukur tentang seberapa penting orang yang meninggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selesai pembakaran mayat, maka tulang-tulang sisa pembakaran dikumpulkan. Abu dan tulang dimasukkan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Ungkapan rasa duka atas kematian seorang kerabat yaitu dengan memotong salah satu dari sambungan ruas jari tangan perempuan dengan menggunakan kapak. Pemotongan jari tangan sebagai penanda kematian dan penghormatan kepada kerabat yang meninggal. Mereka percaya arwah dari yang meninggal akan menghargai rasa sakit yang diderita atau duka cita mereka.
Upacara yang menuntut korban menurut Turner dalam buku Ritual Process: Structure and Anti Structure (1974) merupakan upacara sentral dalam religi masyarakat yang sederhana.
Pada prinsipnya semua religi di dunia ini, memiliki simbol sendiri-sendiri. Suatu simbol tidaklah memiliki nilai dan kedudukan yang universal, tetapi berlaku terbatas dalam sistem religi itu sendiri dan komunitasnya.