Wine tanpa alkohol mulai menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat karena dianggap telah menghilangkan 100 persen kadar alkohol dan berubah kembali menjadi jus anggur. Selain menghilangkan kadar alkohol, non-alcoholic wine juga dianggap memiliki dampak kesehatan yang baik dibandingkan dengan wine pada umumnya.
Dengan adanya berbagai definisi mengenai non-alcoholic wine, apa yang sebenarnya terjadi pada proses pengolahan non-alcoholic wine tersebut?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kadar gula pada jus buah akan berpengaruh pada intensitas alkohol yang dihasilkan setelah fermentasi. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan dalam pembuatan wine tanpa alkohol. Namun sebagian besar metode menyatakan tahap awal yang dilakukan sama seperti pembuatan wine pada umumnya.
Proses pertama menggunakan teknik destilasi vakum dilakukan dengan cara memasukkan wine dalam alat vakum kemudian mengubah tekanan atmosfer sehingga cairan menguap pada suhu rendah atau tanpa adanya panas, dan alkohol tersaring. Selain itu juga untuk menghindari berkurangnya aroma dan anggur yang termasak bila adanya panas.
Metode reverse osmosis memiliki prinsip memisahkan dua larutan dengan menggunakan membran semi permeabel dengan membedakan tekanan antar kedua larutan melalui tekanan osmosis. Dengan adanya perbedaan tekanan, maka terjadi reaksi yang menyebabkan larutan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, sehingga alkohol dapat terpisah dari larutan wine.
Namun penelitian terkini menyatakan bahwa masih terdapat perbedaan aroma dan rasa antara alcoholic wine dan non-alcoholic wine sehingga belum banyak orang menyukai non-alcoholic wine sebagai pengganti wine beralkohol.