7 Kultum Ramadhan Singkat yang Menyentuh Hati dan Penuh Hikmah
Kultum Ramadhan 4: Ramadhan sebagai ajang muhasabah diri
Assalamu'alaikum wr.wb.Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan.
Jamaah yang dirahmati Allah, meningkatkan kualitas ketakwaan adalah kewajiban setiap Muslim, terlebih di bulan Ramadhan yang memiliki kemuliaan dan keagungan tersendiri. Namun kita juga harus menyadari bahwa manusia tidak luput dari sifat lupa dan lalai.
Salah satu cara menumbuhkan ketakwaan sekaligus memantaskan diri untuk meraih ampunan Allah Ta'ala adalah dengan melakukan introspeksi diri. Jangan sampai bulan yang mulia ini berlalu, sementara kita justru tidak memperoleh ampunan dari-Nya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini sebagaimana peringatan malaikat Jibril kepada Baginda Nabi dalam sebuah hadis:
وَمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ; فَأَبْعَدَهُ اللّٰهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ
Artinya: "Siapa pun yang bertemu dengan bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapat pengampunan, semoga Allah menjauhkannya dari Rahmat-Nya. Katakanlah wahai nabi: "Aamiin" lalu nabi mengucap: "Aamiin". (HR Thabrani)
Hadis ini menjadi kabar gembira bagi orang beriman, sekaligus peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan bulan penuh ampunan. Oleh karena itu, muhasabah di hari-hari terakhir Ramadhan menjadi sangat penting sebagai sarana refleksi diri.
Dengan introspeksi, kita dapat menilai seberapa sungguh-sungguh dan seberapa berkualitas ibadah yang telah kita lakukan selama Ramadhan. Orang yang cerdas adalah mereka yang memikirkan bekal hidupnya dengan penuh keseriusan.
Sedangkan orang yang bijaksana adalah mereka yang benar-benar menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Sayyidina Umar bin Khattab ra pun menasihati agar setiap Muslim selalu bermuhasabah terhadap dirinya sendiri.
Nasihat tersebut menjadi pengingat akan pentingnya introspeksi sebelum datangnya hari perhitungan. Beliau berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا
Artinya: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia."
Pesan ini menanamkan kesadaran bahwa ringannya hisab kelak sangat bergantung pada kesungguhan muhasabah di dunia. Hisab merupakan peristiwa yang pasti dialami seluruh makhluk pada hari kiamat.
Pada hari itu, setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban tanpa ada satupun yang terlewat. Oleh sebab itu, berusaha meringankan hisab menjadi kewajiban setiap orang beriman.
Setiap individu akan menghadapi perhitungannya sendiri tanpa bisa bergantung pada siapa pun. Bayangkan kegentaran saat diadili oleh manusia yang kita segani, lalu bagaimana dengan hisab di hadapan Allah SWT.
Hisab di akhirat jauh lebih dahsyat karena Allah SWT sendiri yang akan mengadili dan menanyakan setiap nikmat yang diberikan. Pada hari itu pula, Allah SWT menampakkan Asma-Nya Al-Muntaqim, Dzat Yang Maha Membalas.
Hal ini menunjukkan betapa serius dan agungnya proses perhitungan amal di akhirat kelak. Salah satu sarana terbaik untuk bermuhasabah adalah melalui shalat.
Hal ini sebagaimana nasehat Imam Abul Hasan As-Syadzili yang dinukil oleh Imam Ibnu Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Tajul 'Arushalaman 13:
كِلْ نَفْسَكَ وَزِنْهَا بِالصَّلَاةِ
Artinya, "Ukurlah dirimu dan timbanglah dengan shalat."
Dengan shalat, seseorang dapat menilai sejauh mana dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu. Jika nafsu dapat terkendali karena shalat, maka itulah tanda keberuntungan.
Namun apabila nafsu tetap liar dan berat melangkah menuju shalat, maka seseorang patut menangisi dirinya. Sebab tidak ada kekasih yang enggan berjumpa dengan yang dicintainya.
Oleh karena itu, kualitas shalat menjadi cermin keadaan seorang hamba di sisi Allah. Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di hadapan Allah, hendaklah ia menilai kualitas shalatnya.
Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana muhasabah yang sangat penting. Terlebih di bulan Ramadhan, keutamaan ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Sayyid Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitabAn-Nasha'ih Ad-Diniyyahhalaman 83: "Bahwa ibadah-ibadah sunnah di bulan Ramadhan pahalanya sebanding dengan ibadah wajib di bulan lain, dan ibadah wajib di bulan Ramadhan pahalanya sebanding dengan tujuh puluh ibadah wajib di bulan lain."
Keutamaan ini seharusnya mendorong kita untuk semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah. Semoga Ramadhan ini menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Akhir kata, marilah kita tutup Ramadhan dengan muhasabah yang jujur dan amal yang lebih berkualitas. Semoga Allah menerima seluruh ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita, wallahu a'lam.Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 5: Istiqomah dalam ketakwaan setelah Ramadhan
Assalamu'alaikum wr.wb.Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan yang penuh keberkahan, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu keberkahan dakwah para ulama Nusantara adalah tumbuhnya kesadaran umat akan keagungan dan kemuliaan bulan Ramadhan.
Melalui dakwah yang masif dan berkesinambungan, para ulama menanamkan pemahaman tentang keutamaan Ramadhan yang tidak dijumpai pada bulan lainnya, sehingga semangat keberagamaan umat meningkat dengan nyata.
Fenomena ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang hendak berbuat tercela lalu ditegur dengan kalimat seperti, "Kalau Ramadhan tidak boleh berbohong," atau "Kalau Ramadhan tidak boleh membicarakan orang lain." Ungkapan semacam ini sangat sering terdengar dan menjadi bagian dari budaya masyarakat kita.
Namun jamaah sekalian, dari teguran tersebut muncul kesan seolah-olah perbuatan tercela diperbolehkan di luar bulan Ramadhan. Padahal, Islam melarang perbuatan tersebut kapan pun, hanya saja Ramadhan memiliki kedudukan istimewa di hati umat sehingga melahirkan fenomena seperti itu.
Oleh karena itu, tugas kita bukan hanya menjaga perilaku baik selama Ramadhan saja. Lebih dari itu, kita dituntut untuk mempertahankannya secara konsisten setelah Ramadhan berakhir.
Hakikatnya, Ramadhan adalah titik awal untuk membentuk pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bertakwa. Bulan ini bukan tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang perbaikan diri.
Melalui ibadah puasa, jamaah sekalian, kita dilatih untuk mengendalikan diri dari pelanggaran dan kemaksiatan. Kondisi fisik yang lebih lemah membantu kita menahan diri dari aktivitas yang tidak bermanfaat, terutama perbuatan dosa.
Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin juz 1 halaman 235 menegaskan bahwa orang yang berbuka puasa dengan balas dendam melalui makan berlebihan, maka puasanya tidak memberikan manfaat. Ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi latihan pengendalian diri secara menyeluruh.
Ketika Ramadhan melatih anggota tubuh agar tidak bermaksiat, maka latihan tersebut seharusnya dijaga dan diteruskan pada bulan-bulan setelahnya. Tentu hal ini memerlukan proses yang panjang, tahapan bertahap, serta niat yang sungguh-sungguh.
Proses tersebut bisa dimulai secara berurutan, misalnya pada tahun ini kita fokus menjaga lisan agar tidak sembarangan berbicara, terutama terkait aib orang lain. Pada tahun berikutnya, latihan bisa dilanjutkan dengan menjaga pandangan, pendengaran, tangan, dan anggota tubuh lainnya.
Dengan cara inilah seluruh anggota tubuh perlahan dapat dijaga dari perbuatan yang dilarang agama. Inilah hakikat istiqomah dalam ketakwaan, yakni konsisten menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Ketakwaan yang dibentuk melalui keberkahan Ramadhan sebagai sarana penggemblengan diri akan selaras dengan firman Allah SWT berikut ini:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka konsisten (istiqomah dengan ucapan tersebut), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan berikanlah berita gembira kepada mereka dengan (pahala) surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian'" (QS. Fussilat: 30).
Jamaah yang dimuliakan Allah, seorang mukmin yang benar-benar konsisten sebagaimana ayat ini tidak akan memilih-milih waktu untuk taat kepada Allah. Baginya, setiap bulan adalah kesempatan yang sama untuk menjauhi maksiat dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Namun karena kebanyakan manusia belum mampu menyelaraskan ucapan dan perbuatannya secara sempurna, maka Ramadhan ini hendaknya menjadi momentum untuk bertekad memperbaiki diri.
Mulailah dengan menahan anggota tubuh dari dosa, lalu melatihnya agar dapat dilakukan secara istiqomah.
Dengan sikap seperti ini, sangat mungkin kita termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam hadits Nabi SAW riwayat al-Bukhari dan Muslim:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya, "Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah yang paling istiqomah pengerjaannya meskipun sedikit."
Oleh sebab itu jamaah sekalian, apabila setelah Ramadhan kita baru mampu menjaga lisan saja, hal itu bukan masalah dan justru dicintai Allah karena dilakukan secara konsisten. Begitu pula amal-amal lain, meskipun sedikit, tetap bernilai besar di sisi Allah karena dilakukan dengan istiqomah.
Perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus lambat laun akan menjadi tabiat dan kebiasaan. Sebagaimana kebiasaan pada umumnya, ketika ditinggalkan akan terasa janggal dan tidak nyaman, baik kebiasaan baik maupun kebiasaan buruk.
Akhirnya, Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memulai kebiasaan baik berupa ketakwaan. Ketika bulan Ramadhan berlalu, kebiasaan tersebut tetap terjaga dan bahkan berpotensi dilakukan sepanjang hayat karena telah mendarah daging.
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk istiqomah dalam kebaikan setelah Ramadhan.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 6: Meningkatkan kualitas ibadah di 10 malam terakhir bulan Ramadhan
Assalamu'alaikum wr.wb.Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini.Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua termasuk golongan yang istiqomah mengikuti sunnah beliau.
Jamaah yang dirahmati Allah, Ramadhan merupakan bulan yang sarat dengan keberkahan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya dan pintu-pintu rahmat terbuka luas.
Bulan ini menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai bentuk ibadah, terlebih pada sepuluh malam terakhir yang memiliki keutamaan luar biasa.
Dalam berbagai hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk meningkatkan kesungguhan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pada waktu tersebut, beliau memperbanyak ibadah, menghidupkan malam dengan ketaatan, serta mengajak keluarganya untuk turut serta beribadah.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA, ia berkata:كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِArtinya, "Rasulullah SAW bersungguh-sungguh di dalam 10 hari bulan Ramadhan melebihi waktu-waktu lainnya," (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Rasulullah SAW terhadap sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kesungguhan tersebut menjadi teladan bagi kita semua dalam mengoptimalkan ibadah di waktu yang sangat istimewa ini.
Selain itu, dalam riwayat lain juga dijelaskan:كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُArtinya, "Saat memasuki 10 akhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupi malam harinya (dengan ibadah) dan membangunkan keluarganya (untuk ikut beribadah)," (HR. Al-Bukhari).
Jamaah sekalian, Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi 'ala Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "mengencangkan ikat pinggang" adalah meningkatkan kesungguhan dan fokus dalam ibadah. Artinya, Rasulullah SAW lebih giat mendekatkan diri kepada Allah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Penjelasan ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya memperbanyak shalat, dzikir, dan doa. Beliau juga mengurangi keterikatan pada urusan dunia agar ibadah dapat dilakukan dengan penuh kekhusyukan.
Imam Nawawi menegaskan hal tersebut dengan berkata:فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُزَادَ مِنَ الْعِبَادَاتِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَاسْتِحْبَابُ إِحْيَاءِ لَيَالِيهِ بِالْعِبَادَاتِArtinya, "Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah," (Imam Nawawi, Syarah Nawawi 'ala Shahih Muslim, [Beirut, Darul Ihya' Turots: 1392], jilid VIII, hlm. 70).
Kesungguhan beribadah pada sepuluh malam terakhir merupakan usaha menutup Ramadhan dengan amalan terbaik. Selain itu, waktu ini juga menjadi kesempatan besar untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana sabdanya:تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَArtinya, "Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan," (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Jamaah yang dimuliakan Allah, di antara amalan yang dapat ditingkatkan pada sepuluh malam terakhir adalah memperbanyak shalat malam. Shalat tahajud, witir, dan tarawih yang dikerjakan dengan khusyuk menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain itu, memperbanyak membaca Al-Qur'an juga sangat dianjurkan karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Membacanya dengan tadabbur dan penghayatan akan semakin menyempurnakan ibadah di bulan suci ini.
Memperbanyak dzikir dan doa juga menjadi amalan utama yang dianjurkan Rasulullah SAW, terutama di malam-malam terakhir. Salah satu doa yang dianjurkan adalah:اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيArtinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia, Engkau mencintai pemaaf, maka maafkanlah aku."
I'tikaf di masjid juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Rasulullah SAW secara konsisten melaksanakan i'tikaf pada waktu tersebut.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُArtinya, "Rasulullah SAW beri'tikaf di 10 malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat," (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu, memperbanyak sedekah juga sangat dianjurkan, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Sedekah dapat berupa harta, makanan, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Kesungguhan dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan merupakan ikhtiar maksimal untuk meraih ampunan dan keberkahan Allah SWT. Rasulullah SAW telah mencontohkan dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, beritikaf, dan bersedekah.
Jamaah sekalian, Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang waktunya sangat terbatas dan akan segera berlalu. Jangan sampai kita menyesal karena menyia-nyiakannya tanpa usaha terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mari manfaatkan sisa waktu Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, semoga kita semua diberi kesempatan meraih Lailatul Qadar dan mendapatkan ridha-Nya. Wallahu a'lam.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Kultum Ramadhan 7: Bulan Puasa, waktu terbaik untuk saling memaafkan
Assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu hikmah besar Ramadhan adalah mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Bulan suci ini menjadi kesempatan emas untuk menata kembali relasi dengan keluarga, sahabat, tetangga, bahkan dengan orang yang pernah memiliki masalah dengan kita.
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga dan memperbaiki hubungan sosial di tengah umat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:
وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۖ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Artinya: "Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), damaikanlah keduanya dengan adil. Bersikaplah adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bersikap adil."
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perdamaian harus dibangun di atas keadilan. Islam tidak menghendaki konflik berlarut-larut di antara sesama orang beriman.
Imam Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan ayat ini dalam kitab tafsirnya jilid 22 halaman 293:
ذَلِكَ هُوَ الْإِصْلَاحُ بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ
Artinya, "Yaitu mendamaikan di antara mereka dengan cara yang adil."
Penjelasan ini sangat sejalan dengan semangat Ramadhan sebagai bulan perbaikan diri dan penyucian hati. Salah satu bentuk perbaikan diri yang paling nyata adalah membenahi hubungan sosial dengan sesama.
Jamaah sekalian, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan penuh ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu, inilah waktu yang paling tepat untuk saling memaafkan dan menghapus dendam yang tersimpan di dalam hati.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memaafkan orang lain adalah sebab turunnya ampunan Allah kepada kita. Saat terjadi perselisihan, Ramadhan mengajak kita untuk melapangkan dada dan melepas rasa benci. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 178:
فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih."
Ayat ini menunjukkan bahwa pemaafan adalah bentuk rahmat dan keringanan dari Allah SWT. Orang yang mampu memaafkan berarti telah melatih jiwanya menuju ketakwaan.
Imam Ibrahim An-Nakha'i menjelaskan karakter orang beriman sebagaimana dikutip Ibnu Asyur dalam at-Tahrir wat Tanwir jilid 25 halaman 114:
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا، وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا
Artinya: "Karakter orang-orang beriman tidak suka jika dihina, namun ketika mereka bisa memilih, mereka memilih untuk memaafkan."
Jamaah yang dimuliakan Allah, menjaga hubungan baik juga bisa dilakukan dengan memperbanyak berbagi. Baik berupa harta, tenaga, maupun perhatian, semuanya bernilai ibadah jika dilakukan dengan ikhlas.
Memberi makanan berbuka kepada yang membutuhkan, membantu tetangga yang kesulitan, dan meringankan beban orang lain adalah cara efektif mempererat persaudaraan. Tindakan ini mencerminkan kasih sayang yang menjadi inti ajaran Islam.
Ramadhan juga melatih kita untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan perbedaan sikap manusia. Alih-alih mudah menghakimi, kita diajak untuk memberi ruang bagi orang lain agar bisa berubah menjadi lebih baik.
Kesabaran ini akan melahirkan suasana sosial yang harmonis. Setiap individu akan merasa dihargai, diterima, dan dicintai.
Semakin baik kualitas ibadah kita kepada Allah, seharusnya semakin baik pula akhlak kita kepada sesama. Ketakwaan yang sejati akan tercermin dalam sikap, ucapan, dan perbuatan sehari-hari.
Keikhlasan dalam beribadah melahirkan perilaku positif dalam kehidupan sosial. Dari sinilah hubungan antarsesama menjadi lebih kuat dan bermakna.
Mari kita manfaatkan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan hubungan sosial. Dengan bersikap sabar, pemaaf, peduli, serta menjaga lisan, kita dapat membangun masyarakat yang penuh kasih sayang.
Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Artinya, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, anggota lainnya akan ikut merasakan susah tidur dan demam."
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk benar-benar menghayati makna persaudaraan dalam Islam. Mari kita pererat ukhuwah, semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bertakwa. Akhir kata, semoga apa yang disampaikan dapat menjadi pengingat bagi kita semua.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Itulah kultum Ramadhan yang dapat dijadikan referensi untuk mengisi ceramah di masjid, sekolah, kantor, maupun lingkungan keluarga. Setiap tema mengandung pesan penting tentang keimanan, muhasabah, istiqomah, dan semangat memperbaiki diri.
(gas/fef)[Gambas:Video CNN]