Contoh Khutbah Kemerdekaan tentang Nasionalisme dan Rasa Syukur

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 08:00 WIB
Berikut beberapa contoh khutbah kemerdekaan lengkap dengan dalilnya yang dapat dijadikan referensi sesuai tema yang ingin disampaikan kepada jamaah.
Berikut beberapa contoh khutbah kemerdekaan lengkap dengan dalilnya yang dapat dijadikan referensi sesuai tema yang ingin disampaikan kepada jamaah. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

2. Khutbah Jumat tentang Merayakan Kemerdekaan dengan Berkontribusi untuk Negeri

الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَلِيِّ المُتَّقِيْنَ، وَنَاصِرِ عِبَادِهِ المُسْتَضْعَفِيْنَ، يَقْضِي بِالحَقِّ، وَهُوَ خَيْرُ الفَاصِلِيْنَ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ النُّوْرُ الهَادِي الأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ، وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ المَيَامِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ. اتَّقُوا اللهَ فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ اللهِ، وَصَّى بِهَا الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ. اتَّقُوا اللهَ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌۢ. اتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ شَهْرَ أَغُسْطُس أَفْضَلُ الشُّهُوْرِ عِنْدَ الإِنْدُوْنِيْسِيِّيْنَ لِأَنَّ فِيْهِ عِيْدَ اسْتِقْلاَلِهِمْ. وَذِكْرَى عِيْدِ الاسْتِقْلاَلِ لَتُعَدُّ مِنْ أَعْظَمِ الذِّكْرَيَاتِ الوَطَنِيَّةِ، لِأَنَّهَا ذِكْرَى العِزَّةِ وَالكَرَامَةِ، وَذِكْرَى التَّضْحِيَةِ وَالسِّيَادَةِ، وَذِكْرَى الجِهَادِ وَالمُقَاوَمَةِ. وَإِنَّ ذِكْرَى الأَحْدَاثِ الوَطَنِيَّةِ، وَالأَيَّامِ الَّتِي جَرَتْ فِيْهَا، وَالرِّجَالِ الَّذِيْنَ كَانُوْا مِنْ وَرَائِهَا، لا يُعَدُّ تَغَنِّيًا بِالمَاضِي، وَافْتِخَارًا بِالأَجْدَادِ، بَلْ يُعْتَبَرُ شَرْعًا مِنْ بَابِ الاسْتِجَابَةِ لأَمْرِ اللهِ، وَالتَّذْكِيرِ بِآلَائِهِ، وَالقِيَامِ بِوَاجِبِ شُكْرِهِ عَلَى نِعَمِهِ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى لِكَلِيْمِهِ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: " وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ" [سُوْرَةُ إِبْرَاهِيْمَ (١٤): ٥]

Jama'ah shalat Jumat rahimakumullah, Mari kita haturkan ungkapan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Ta'ala, yang telah memberi nikmat dan anugerah yang tak terhingga banyaknya. Mari ungkapan itu kita upayakan melalui penguatan takwa kita, dengan cara melihat dan mencermati apa yang kita lakukan.

Apabila yang akan kita lakukan telah sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah, maka segera laksanakan rencana tersebut. Sedang apabila yang akan kita lakukan ternyata berbeda atau bahkan bertentangan dengan petunjuk keduanya, maka segeralah ditinggalkan dan dibatalkan demi kebaikan kita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jama'ah shalat Jumat rahimakumullah, Saat ini kita berada di bulan Agustus, bulan kemerdekaan, bulan keramat bagi Bangsa Indonesia. Saatnya kita merenung perjuangan besar bangsa dalam mencapai kemerdekaan dengan mengorbankan harta, benda, jiwa dan raga.

Saatnya kita mensyukuri sedemikian banyak nikmat yang kita peroleh di masa kemerdekaan ini: nikmat berupa kesempatan bekerja, berinovasi dan bahkan kemarin berprestasi dengan meraih emas di cabang panjat tebing dan angkat besi Olimpiade Paris tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi kita, alhamdulillah, masih di atas 5 persen. Kehidupan politik kita, meskipun kita akan Pilkada, tapi secara umum kita berhasil menyelenggarakan Pilpres dan Pileg dengan sukses dan lancar.

Sungguh nikmat yang luar biasa banyak, yang patut terus disyukuri, apalagi saat banyak negara tidak mampu menyatukan warganya, bahkan harus berperang melawan musuh.

Jama'ah shalat Jumat rahimakumullah, Di samping syukur atas anugerah-anugerah Allah, saatnya kita juga berintrospeksi dan ber-muhasabah, bahwa meskipun sudah 79 tahun merdeka, akan tetapi masih banyak persoalan yang harus menjadi perhatian dan keprihatinan kita.

Kita belum sepenuhnya bebas dari banyak permasalahan bangsa: masalah narkotika yang banyak beredar secara terbuka, prostitusi, perzinahan dan LGBT yang makin berani unjuk diri lewat media-media sosial, judi online yang merebak parah digandrungi generasi muda.

Di wilayah ketatanegaraan, hari ini kita tidak punya Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang sejak awal dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Pembangunan negara kita berjalan tanpa arah yang jelas, karena yang berlaku sekedar menuruti visi-misi presiden terpilih, dan itu hanya 5-10 tahun sekali ganti. Hari ini kita sadar kewenangan yang sangat besar di ranah eksekutif dan legislatif, baik dari aspek perundangan, penganggaran maupun pengawasan. Mereka yang dipilih adalah representasi parpol. Di negeri ini kalau mau jadi apa-apa harus bargaining lewat partai politik. Sedang pengaderan mereka sering tidak jelas.

Upaya mereka untuk terpilih acap kali juga pragmatis. Padahal negeri kita luas sekali, penduduknya banyak, dan majemuk. Sila ke-4 Pancasila sebagai dasar negara, mengamanatkan perwakilan kita dari semua golongan dan kelompok masyarakat, mewakili suku, daerah, profesi dan organisasi dalam bidang ekonomi, agama, sosial budaya dan lain-lain, yang mereka adalah kelompok mandiri dan bukan bagian dari partai politik.

Inilah realitas kemerdekaan. Oleh karena itu perayaan kemerdekaan kita sepatutnya memperhatikan hal-hal tersebut. Cinta tanah air tidak sekedar upacara ngerek bendera dan baris-berbaris, tapi juga dengan memikirkan, melakukan dan mengkreasikan karya terbaik bagi bangsa.

Untuk menjadi patriot, Anda tidak harus berlaga di medan perang. Untuk menjadi negarawan, Anda tidak harus bersidang di Senayan. Untuk menjadi pahlawan di masa sekarang, syaratnya cuma satu, yaitu kepedulian Anda terhadap perbaikan nasib bangsa dan negara.

Jama'ah shalat Jumat rahimakumullah, Demikian khutbah ini disampaikan, semoga dapat dipahami dengan baik. Dan semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik, amin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ الشَّاكِرِينَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيَّ وَلِوَالِدِيكُمْ، وَلِمَشَايِخِي وَلِمَشَايِخِكُمْ، وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


3. Khutbah Jumat tentang Cara Bersyukur atas Anugerah Kemerdekaan

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِر وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Alhamdulillah, pada hari ini, kita masih bisa terus merasakan nikmat yang dianugerahkan Allah swt kepada kita semua. Di antaranya adalah nikmat iman, kesehatan, dan kemerdekaan sehingga kita bisa dengan tenang melangkahkan kaki menuju majelis ini untuk menjalankan tugas utama kita hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah. Hal ini akan sulit untuk dilakukan jika kita berada dalam kondisi peperangan alias tidak merdeka serta masih berada dalam kungkungan penjajah.

Semua nikmat ini tidak boleh sedikitpun kita kufuri. Jika kita kufur nikmat, maka kita termasuk golongan orang-orang yang tak tahu bersyukur dan akan mendapatkan siksa yang pedih atas keangkuhan ini. Sungguh, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang pantas sombong dan membanggakan diri sehingga lupa bersyukur dan mendustakan nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah swt.

Kita telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya yang tertuang dalam Al-Qur'an surat Ar-rahman, dengan kalimat yang diulang-ulang sebanyak 31 kali. Sebuah kalimat introspektif dan mengingatkan manusia untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur yakni:

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Artinya: "Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?" (QS Arrahman: 13)

Untuk menguatkan rasa syukur ini, ketakwaan harus kita perkuat untuk menjadi rambu-rambu dalam mengarungi kehidupan. Dengan ketakwaan, berupa menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka kita akan senantiasa mendapat petunjuk dari Allah untuk perjalanan kehidupan yang lebih terarah. Mari kita perkuat dan pertahankan ketakwaan serta keislaman kita sekaligus menguatkan komitmen untuk kembali kepada-Nya dalam kondisi takwa dan Islam.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS Al Imran: 102).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Saat ini kita berada di bulan Agustus yang menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kemudian dijadikan sebagai momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita perlu menyadari bahwa generasi kita yang hidup saat ini sebagian besar merupakan generasi yang tidak merasakan secara langsung bagaimana pedihnya perjuangan untuk merebut kemerdekaan.

Kita adalah generasi yang tinggal meneruskan melalui karya-karya positif untuk mengisi kemerdekaan. Karunia kemerdekaan yang diperjuangkan dengan tetes darah dan nyawa para pejuang adalah sebuah warisan yang wajib kita pertahankan. Jangan sampai warisan agung kemerdekaan ini hilang karena ulah kita sendiri yang tak tahu bersyukur dan berterimakasih.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (QS Ibrahim: 7)

Oleh karena itu, di antara cara bersyukur atas anugerah kemerdekaan ini adalah dengan menghargai, mempelajari, dan mengambil hikmah sejarah perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan yang sekarang kita nikmati ini.

Hal ini bisa dilakukan dengan membaca berbagai literatur-literatur sejarah dan juga bersilaturahim kepada orang-orang tua yang masih hidup, yang mengalami secara langsung masa perjuangan kemerdekaan. Selain itu, kita bisa meningkatkan rasa syukur dengan melakukan ziarah ke makam orang tua dan para pejuang yang telah wafat dan mendoakan agar segala amal ibadah dan perjuangannya diterima Allah swt. Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya: "Siapa saja yang mendoakan saudaranya secara ghaib, malaikat yang diutus untuknya mengaminkan doanya, 'Amin, untukmu pun demikian.'' (HR Muslim)

Selain dengan tidak melupakan sejarah kemerdekaan, untuk memotivasi kita lebih baik ke depan, kita bisa bersyukur atas karunia kemerdekaan ini melalui komitmen mengisinya dengan hal-hal yang positif sesuai dengan posisi dan profesi masing-masing. Mengisi kemerdekaan bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja. Kita sebagai warga negara yang baik juga berkewajiban mengisi kemerdekaan dengan kemampuan dan potensi yang kita miliki.

Para petani mengisi kemerdekaan dengan terus berjuang di bidang pertanian sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan. Para guru dengan terus mendidik para pelajar untuk menjadi insan berbudi pekerti luhur yang mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Para pelajar dengan terus mencari ilmu sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan. Dan profesi-profesi lainnya harus mampu memberi sumbangsih positif untuk mengisi kemerdekaan sehingga Indonesia akan berubah ke arah yang lebih baik lagi.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka". (QS Ar-Ra'du: 11)

Perbedaan keragaman profesi dan status terlebih kebhinekaan dalam suku, bahasa, dan agama di Indonesia ini tidak boleh menjadi penghalang untuk mengisi kemerdekaan. Justru sebaliknya, perbedaan yang ada ini adalah karunia dari Allah dan sebuah potensi besar yang bisa menjadi sumbangsih dalam melanjutkan dan merawat kemerdekaan.

Oleh karena itu kebersamaan, persatuan, dan kesatuan harus dikedepankan dan meninggalkan perpecahan. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

Artinya: "Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai," (QS Al-Imran: 103)

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Demikian beberapa wujud syukur yang bisa kita lakukan dalam mensyukuri kemerdekaan yang telah menghantarkan kita tenang dan aman dalam menjalankan misi utama kita hidup di dunia yakni beribadah kepada Allah swt.

Dengan senantiasa ingat pada sejarah, mengisi kemerdekaan dengan hal positif, dan menjaga persatuan, mudah-mudahan kita mampu merawat kemerdekaan ini dan mampu terus kita wariskan kepada generasi selanjutnya sampai hari kiamat nanti. Amin.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Itulah contoh khutbah kemerdekaan yang bisa dijadikan inspirasi. Semoga bermanfaat!

(gas/fef)
placeholder

HALAMAN:
1 2