Apa Itu Maulid Nabi? Ini Sejarah, Tradisi Peringatan, dan Dalilnya

CNN Indonesia
Selasa, 25 Agu 2026 05:05 WIB
Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu tradisi keagamaan umat Islam di Indonesia.
Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu tradisi keagamaan umat Islam di Indonesia. (Foto: REUTERS/Khaled Abdullah)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Apa itu Maulid Nabi menjadi pertanyaan yang banyak muncul ketika memasuki bulan Rabiul Awal.

Bagi Anda yang belum memahaminya, Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang menjadi salah satu tradisi keagamaan umat Islam, termasuk di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peringatan ini umumnya diisi dengan pembacaan riwayat Nabi, selawat, ceramah keagamaan, serta berbagai kegiatan sosial dan budaya.

Menurut NU Online, inti peringatan Maulid Nabi adalah mengenalkan sosok Nabi Muhammad SAW kepada setiap generasi agar umat Islam semakin mengenal, mencintai, dan meneladani kehidupan Rasulullah.

Meskipun kelahiran Nabi Muhammad SAW diperingati pada 12 Rabiul Awal, pelaksanaan Maulid tidak terbatas pada satu tanggal dan dapat berlangsung sepanjang bulan Rabiul Awal.


Apa itu Maulid Nabi dan mengapa diperingati?

Secara umum, Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilakukan umat Islam sebagai bentuk kegembiraan dan penghormatan terhadap Rasulullah. Nabi Muhammad SAW diyakini lahir pada 12 Rabiul Awal sekitar tahun 570 Masehi di Makkah.

Tradisi Maulid berkembang dalam berbagai bentuk. Beberapa kegiatan yang umum dilakukan masyarakat Indonesia meliputi:

  • Pembacaan Barzanji, yaitu kisah dan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW
  • Pembacaan selawat dan qasidah sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah
  • Ceramah keagamaan mengenai kehidupan, akhlak, dan ajaran Nabi
  • Perlombaan keagamaan, seperti lomba membaca Al-Qur'an, azan, dan selawat
  • Makan bersama atau kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat

Perbedaan bentuk perayaan tersebut menunjukkan keragaman tradisi di berbagai daerah. Masyarakat Madura, misalnya, mengenal tradisi Muludhen, sedangkan masyarakat Minang memiliki tradisi Bungo Lado.

Di Kudus terdapat Kirab Ampyang, sementara sejumlah daerah lainnya mengenal tradisi Grebeg Maulud.

Sejarah perayaan Maulid Nabi

Menurut penjelasan Prof. Quraish Shihab yang dikutip dalam sumber tersebut, perayaan Maulid Nabi secara meriah mulai dikenal pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Al-Hakim Billah.

Tujuan utama peringatan tersebut bukan sekadar merayakan tanggal kelahiran, tetapi memperkenalkan Nabi Muhammad SAW kepada umat dari berbagai generasi.

Gagasan tersebut menempatkan pengenalan terhadap Rasulullah sebagai bagian penting dari Maulid. Dengan mengenal kehidupan Nabi, umat Islam diharapkan dapat memahami akhlak, perjuangan, serta tuntunan yang beliau ajarkan.

Peringatan Maulid juga tidak selalu berlangsung tepat pada 12 Rabiul Awal. Sebagian masyarakat melaksanakannya sejak awal hingga akhir bulan Rabiul Awal, bahkan ada yang menyelenggarakannya di luar bulan tersebut.

Apa dalil peringatan Maulid Nabi?

Pembahasan mengenai dalil Maulid Nabi berkaitan dengan cara umat Islam memaknai kelahiran Rasulullah. Salah satu dasar yang sering dikaitkan dengan anjuran bergembira atas rahmat Allah adalah QS Yunus ayat 58, yang memuat perintah untuk bergembira atas karunia dan rahmat Allah.

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan."

Selain itu, terdapat hadis mengenai kebiasaan Nabi Muhammad SAW berpuasa pada hari Senin. Ketika ditanya alasannya, Rasulullah menjelaskan bahwa Senin merupakan hari beliau dilahirkan dan hari ketika beliau menerima wahyu.

Dalam praktiknya, peringatan Maulid juga diwujudkan melalui kegiatan yang beragam. Karena itu, masyarakat tidak hanya menjadikan Maulid sebagai momentum untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempelajari sirah, memperbanyak selawat, serta meneladani akhlak Rasulullah.

(gas/fef)
placeholder