Ini Jurusan S1 dengan Lulusan Menganggur Paling Banyak di Indonesia
Pendidikan tinggi masih kerap dianggap sebagai salah satu modal untuk mudah mendapatkan pekerjaan. Namun nyatanya, memiliki gelar sarjana pun tidak selalu membuat lulusannya langsung mendapatkan pekerjaan.
Riset menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi masih banyak yang menganggur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut tak terlepas dari bidang studi atau jurusan kuliah yang dipilih. Sebab, setiap jurusan memiliki kebutuhan tenaga kerja hingga tingkat persaingan yang berbeda.
Lantas, jurusan kuliah S1 apa saja yang memiliki jumlah pengangguran terbanyak di Indonesia?
Jurusan S1 yang lulusannya banyak menganggur
Penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada penduduk dengan pendidikan minimal S1 mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Temuan tersebut tercantum dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 yang dirilis pada Juli 2026. Laporan berjudul Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? tersebut mengungkapkan bahwa TPT penduduk dengan pendidikan minimal S1 meningkat dari 4,80 persen pada 2022 menjadi 5,18 persen pada 2023.
Angka tersebut kembali meningkat menjadi 5,25 persen pada 2024 dan mencapai 5,39 persen pada 2025.
Jika dilihat berdasarkan bidang studi pendidikan terakhir, lulusan Manajemen menjadi bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara penganggur berpendidikan minimal S1, dengan proporsi sekitar 10,3 persen.
Berikut daftar jurusan kuliah dengan jumlah pengangguran terbanyak di Indonesia berdasarkan laporan LPEM FEB UI.
- Manajemen: 10,3 persen
- Hukum: 9,0 persen
- Ekonomi: 8,7 persen
- Pendidikan: 7,1 persen
- Akuntansi: 5,1 persen
- Ilmu Komputer atau Informatika: 4,6 persen.
Jika ditotal, keenam bidang studi tersebut secara bersama-sama berkontribusi hingga nyaris 45 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1.
Meski demikian, besarnya proporsi tersebut tidak lantas menunjukkan bidang studi tersebut memiliki prospek kerja yang buruk. Ada beberapa faktor penyebab yang mungkin mendasarinya, antara lain:
1. Jumlah lulusannya memang besar
Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi merupakan bidang yang tersedia di banyak perguruan tinggi dan memiliki basis mahasiswa besar.
Jadi, ketika sebagian lulusannya belum bekerja, jumlahnya secara total otomatis terlihat tinggi.
2. Persaingan pekerjaan cukup luas
Lulusan bidang seperti Manajemen, Ekonomi, dan Akuntansi bisa melamar ke banyak jenis pekerjaan. Namun, mereka juga berhadapan dengan lulusan dari jurusan lain untuk posisi yang sama, terutama pekerjaan entry-level di perusahaan.
3. Tidak semua lulusan bekerja sesuai bidangnya
Gelar di bidang Hukum, Ekonomi, atau Pendidikan tidak otomatis membuat seseorang masuk ke pekerjaan yang berkaitan langsung dengan bidang tersebut. Sebagian akhirnya masuk ke pasar kerja umum dan bersaing dengan lulusan dari berbagai jurusan.
4. Kebutuhan pasar kerja
Banyaknya lulusan suatu jurusan belum tentu diikuti kebutuhan tenaga kerja di pasar kerja. Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi lebih ketat dan sebagian lulusan membutuhkan waktu lebih lama untuk terserap.
5. Faktor formasi dan persyaratan profesi
Khusus lulusan jurusan pendidikan, seperti pendidikan guru, bahasa, ekonomi, sains, hingga pendidikan vokasi, penyerapan lulusan amat dipengaruhi oleh ketersediaan formasi guru, kebutuhan sekolah di tiap wilayah, pola rekrutmen, serta persyaratan profesi yang harus dipenuhi.
6. Kebutuhan yang terlalu spesifik
Sementar bagi lulusan jurusan informatika, kebutuhan pasar yang tinggi bukan berarti semua lulusan otomatis terserap. Sebab, lulusan bidang ini ini tidak selalu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Perbedaan keterampilan praktis, pengalaman, penguasaan tools tertentu menciptakan dinamika yang berbeda bagi setiap lulusan Informatika dalam memasuki dunia kerja.
(fef)