Alasan Karhutla Bisa Bikin Orangutan Alami Gagal Paru-Paru

CNN Indonesia
Kamis, 10 Sep 2026 09:00 WIB
Orangutan bernama Sampurna di Kuala Satong, Ketapang, Kalimantan Barat, mendapat pertolongan darurat pada Minggu (30/4).
Orangutan bernama Sampurna di Kuala Satong, Ketapang, Kalimantan Barat, mendapat pertolongan darurat pada Minggu (30/4). (REUTERS/Willy Kurniawan)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengganggu manusia. Bagi orangutan yang hidup di sekitar kawasan terbakar, asap pekat juga dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kondisi tubuhnya.

Kasus terbaru terlihat pada seekor orangutan yang diselamatkan dari kawasan kebakaran di Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8). Orangutan bernama Sampurna itu ditemukan dalam kondisi lemah dan mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter hewan yang menanganinya menduga kondisi tersebut berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut akibat menghirup asap. Ia bahkan membutuhkan oksigen dan cairan melalui infus. Lantas, bagaimana asap karhutla bisa sampai mengganggu paru-paru orangutan?

Asap karhutla membawa lebih dari sekadar udara kotor

Asap kebakaran merupakan campuran berbagai gas berbahaya, zat kimia, dan partikel yang dapat terhirup ke dalam saluran pernapasan.

Menurut studi di Journal of the American Animal Hospital Association pada 2024, ketika asap pekat terus terhirup, saluran pernapasan dapat mengalami iritasi dan peradangan. Beberapa zat dalam asap juga dapat mengganggu kemampuan tubuh membawa atau menggunakan oksigen.

Kondisi tersebut dapat berujung pada hipoksia, yakni ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Itulah mengapa gangguan akibat asap tidak selalu langsung terlihat sebagai kerusakan paru-paru. Masalahnya bisa dimulai dari saluran pernapasan, kemudian mengganggu proses tubuh mendapatkan oksigen.

Orangutan liar juga menunjukkan perubahan saat terpapar asap

Sebuah penelitian di Jurnal Scientific Reports pada 2018, mengamati empat orangutan jantan dewasa di hutan rawa gambut Tuanan, Kalimantan Tengah, sebelum, selama, dan setelah kebakaran pada 2015.

Ketika asap memenuhi kawasan tersebut, konsentrasi PM10 rata-rata mencapai 830,2 mikrogram per meter kubik. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum dan setelah kebakaran, yang masing-masing hanya sekitar 22,2 dan 42,6 mikrogram per meter kubik.

Ini berarti selama kebakaran, orangutan terpapar udara dengan konsentrasi partikel yang jauh lebih tinggi dari kondisi normal.

Menukil BMKG, PM10 merupakan partikel udara berukuran hingga 10 mikrometer. Partikel ini dapat berasal dari debu jalan, tanah kering, aktivitas konstruksi, hingga proses alami seperti embusan angin.

Saat terhirup, PM10 dapat masuk ke saluran pernapasan bagian atas dan berpotensi memicu iritasi pada hidung, tenggorokan, serta mata, terutama ketika konsentrasinya tinggi.

Selama periode asap, orangutan menghabiskan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Setelah periode tersebut, mereka juga menunjukkan penurunan waktu dan jarak perjalanan serta peningkatan penggunaan cadangan lemak.

Peneliti juga menduga perubahan penggunaan energi tersebut mungkin berkaitan dengan respons imun tubuh terhadap paparan asap. Studi itu menyimpulkan bahwa asap kebakaran berdampak negatif terhadap kondisi orangutan.

Suara orangutan pun bisa berubah

Dampak asap juga terlihat dari suara orangutan. Dalam penelitian yang diterbitkan Jurnal iScience pada 2023, peneliti mengamati vokalisasi empat orangutan jantan dewasa di hutan rawa gambut Kalimantan selama kebakaran 2015.

Selama periode asap tebal, orangutan lebih jarang mengeluarkan long call. Kualitas suaranya juga berubah, antara lain menjadi lebih rendah, lebih kasar, dan lebih tidak stabil. Perubahan tersebut masih terlihat sekitar dua bulan setelah asap menghilang.

Peneliti menyebut, perubahan suara tersebut kemungkinan menjadi tanda adanya perubahan kondisi kesehatan.

Temuan ini memang belum bisa diartikan sebagai bukti orangutan mengalami gagal paru. Akan tetapi, perubahan vokalisasi memberikan petunjuk bahwa paparan asap dapat memengaruhi kondisi fisiologis orangutan.

Dalam kasus yang parah, inhalasi asap pada hewan dapat menyebabkan hipoksia dan cedera saluran pernapasan yang membutuhkan penanganan, termasuk terapi oksigen.

Bagi orangutan yang habitatnya berada di kawasan hutan dan rawa gambut, persoalannya menjadi makin serius karena mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk benar-benar menghindari udara yang sudah dipenuhi asap.

Karhutla pun bukan hanya persoalan hilangnya hutan atau habitat. Asap yang dihasilkannya dapat menjadi ancaman kesehatan bagi satwa yang masih bertahan di dalamnya.

(anm/rti)