Pernah terpikir kenapa artificial intelligence (AI) menghabiskan air, padahal teknologi ini digunakan melalui perangkat digital dan tidak terlihat membutuhkan air secara langsung?
Di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik, ada pusat data dengan ribuan perangkat komputer yang harus terus bekerja untuk menjalankan sistem AI. Proses tersebut ternyata melibatkan berbagai kebutuhan yang tidak terlihat oleh pengguna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semakin sering AI digunakan, semakin besar pula perhatian terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk menopang teknologi ini. Air menjadi salah satu bagian yang ikut diperhitungkan, bukan hanya karena proses yang berlangsung di pusat data, tetapi juga karena kebutuhan energi dan infrastruktur pendukungnya.
Jadi, dari mana sebenarnya penggunaan air tersebut berasal?
Jawabannya, berkaitan erat dengan cara pusat data mengelola panas. Server dan perangkat teknologi informasi menggunakan listrik dalam jumlah besar ketika menjalankan model AI. Energi tersebut menghasilkan panas sehingga suhu perangkat perlu dikendalikan secara terus-menerus.
Banyak pusat data menggunakan pendinginan berbasis air, terutama sistem pendinginan evaporatif. Dalam proses ini, air membantu menyerap panas dari udara dan sebagian air kemudian menguap.
Mengutip dari Friends of the Earth, sekitar 80 persen air yang digunakan dalam proses tersebut dapat menguap. Selain penggunaan langsung, kebutuhan air juga muncul dari sumber listrik yang digunakan pusat data.
Pembangkit listrik tertentu memanfaatkan air dalam proses produksi energi. Dengan demikian, konsumsi air AI tidak hanya terjadi di lokasi pusat data, tetapi juga pada rantai pasokan energinya.
Bayangkan, di balik jawaban yang muncul dalam hitungan detik, ada ribuan perangkat komputer yang terus bekerja untuk menjalankan sistem AI. Semakin sering AI digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap air untuk mendinginkan perangkat.
Berapa banyak air yang digunakan AI?
Besarnya kebutuhan air AI sulit dihitung secara pasti karena penggunaan setiap pusat data dipengaruhi lokasi, jenis sistem pendingin, sumber listrik, serta beban komputasi. Data yang dikutip Ekopak dari studi Alex de Vries-Gao dalam jurnal Patterns memperkirakan sistem AI menggunakan sekitar 765 miliar liter air pada 2025.
Sementara itu, penelitian yang dimuat di jurnal Water Research memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027.
Untuk penggunaan sehari-hari, penelitian yang dikutip dalam sumber tersebut memperkirakan 10 hingga 50 respons AI berukuran sedang dapat menggunakan air yang setara dengan sekitar satu botol berukuran 500 mililiter.
Angka ini bukan jumlah air yang langsung keluar setiap kali seseorang mengirim pertanyaan, melainkan perkiraan jejak air yang berkaitan dengan infrastruktur AI.
Celakanya lagi, air yang telah digunakan tak bisa dipakai ulang. Proses penguapan membuat garam, mineral, dan bakteri semakin terkonsentrasi di dalam air yang tersisa. Jika air yang sudah penuh dengan mineral digunakan kembali, maka peralatan bisa mengalami penyumbatan.
Karena itu, operator perlu menambahkan air tawar secara berkala dan membuang sebagian air yang sudah terlalu banyak mengandung mineral sebagai air limbah.
Apakah AI bisa mengurangi penggunaan air?
Pengurangan konsumsi air dapat dilakukan melalui berbagai teknologi dan desain pusat data. Penelitian yang sama menyebut, beberapa pendekatan, seperti pendinginan tanpa air, pemanfaatan badan air alami, pembangunan pusat data di wilayah beriklim dingin, dan pemanfaatan kembali panas buangan.
Namun, teknologi saja belum cukup. Transparansi mengenai penggunaan air juga diperlukan agar dampak lingkungan dari infrastruktur AI dapat diukur dengan lebih jelas.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, pertanyaan kenapa AI menghabiskan air menjadi semakin relevan. Konsumsi tersebut menunjukkan bahwa layanan digital yang terlihat sederhana di layar tetap membutuhkan infrastruktur fisik, listrik, dan sumber daya air dalam jumlah besar.
(gas/asr)
