"Sebenarnya pembangkit listrik yang di Batang itu harus sudah jalan tahun depan. Sudah tidak ada cerita lagi. Terus di Sumatera Selatan, pembangkit listrik Mulut Tambang," ujar Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (7/11).
Menurutnya, pendanaan skema kerjasama pemerintah dan swasta (KPS) merupakan salah satu alternatif untuk memperoleh dukungan pendanaan infrastruktur. Skema itu harus didorong mengingat ketersediaan anggaran di neraca pemerintah maupun di BUMN sangat terbatas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, lanjut Bambang, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diprioritaskan untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur dasar seperti saluran irigasi dan jalan. Sedangkan BUMN didorong untuk mengembangkan pelabuhan, bandara, atau jalan tol.
"Tinggal kemarin kita luput adalah implementasinya. Ini yang harus diprioritaskan pada 2015, supaya proyek KPS yang sudah lengkap itu jalan," katanya.
Selain PLTU Batang dan PLTU Mulut Tambang, Bambang menyebut beberapa proyek KPS lain yang siap dieksekusi, antara lain proyek jalur kereta api bandara dan beberapa kilang minyak.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo berencana menambah pasokan listrik sebesar 35 ribu MW selama lima tahun dirinya menjadi presiden. Rinciannya 15 ribu dari PLN dan 20 ribu lainnya dari perusahaan swasta (Independent Power Producer/IPP). Ini dilakukan untuk mengatasi ancaman krisis listrik pada 2019. Pasalnya saat ini pembangkit listrik yang terpasang baru mencapai 50 ribu MW atau rasio elektrifikasi hanya 80 persen.
Lihat juga:Gagalnya Pembangkit SBY Harus Jadi Pelajaran |