Ndiame Diop, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan setelah dilantik Jokowi dan kabinetnya menetapkan serangkaian sasaran pembangunan yang ambisius, antara lain peningkatan infrastruktur, pembenahan sektor energi, dan pelaksanaan program sosial. Langkah lain yang dinilai positif adalah fokus implementasi program dan pendekatan perumusan kebijakan yang lebih terpusat.
"Langkah-langkah yang bertujuan untuk meningkatkan tata kelola di sektor-sektor utama juga telah dilakukan, misalnya pada industri minyak dan gas bumi," ujarnya dalam paparan Bank Dunia di Jakarta, Senin (8/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, langkah-langkah tersebut merupakan komitmen positif yang diambil di awal pemerintahan yang baru. Hal itu bukti komitmen pemerintah untuk mengambil pilihan-pilihan yang sulit guna menyelesaikan berbagai masalah struktural klasik di Negeri ini.
Dampak Inflasi
"Setiap kenaikan harga BBM sebesar 10 persen akan berdampak pada 1 persen tambahan inflasi," ujarnya belum lama ini.
Ndiame Diop menambahkan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi terhadap daya beli masyarakat dapat diminimalkan dengan memberikan dana kompensasi bagi masyarakat miskin. Kompensasi tersebut disarankan jangan hanya dengan mengucurkan bantuan tunai, tetapi dikombinasikan dengan program perlindungan sosial lainnya.
"Cukup atau tidak bantuan tunai itu tergantung berapa besar alokasi anggarannya," jelas dia.
Akan tetapi, Diop melihat untuk jangka panjang kebijakan pengurangan subsidi akan berdampak positif terhadap perekonomian. Kebijakan ini akan memberikan sinyal baik kepada investor yang menunjukan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal. "Ini positif karena hasilnya bisa direalokasi untuk belanja infrastruktur dan kegiatan produktif lainnya,"