Sebaliknya, penjualan kendaraan roda empat di Thailand justru merosot tajam 36 persen atau turun lebih dari 400 ribu unit, dengan hanya mencatatkan penjualan 719.260 juta unit. Alhasil, pangsa mobil Thailand di pasar Asean tinggal 27 persen, berkurang jika dibandingkan dengan pangsa tahun lalu 38 persen (1,12 juta unit).
Secara umum, penjualan otomotif di tujuh negara anggota AFF turun 10,3 persen, dari 2,95 juta unit menjadi 2,65 juta unit. Selain Thailand, negara anggota AAF yang mengalami kontraksi adalah Brunei Darusalam, yang penjualannya turun 2,9 persen menjadi 15.243 unit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thailand masih menjadi produsen mobil terbesar di kawasan meski produksinya turun hampir 26 persen dalam 10 bulan. Tercatat volume produksi Thailand sebanyak 1,56 juta unit, turun drastis dibandingkan pencapaian Januari-Oktober 2013 yang sebanyak 2,1 juta unit.
Indonesia masih berada di peringkat kedua, dengan selisih produksi yang semakin tipis dengan Thailand. Volume produksi mobil Indonesia, seperti dilaporkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sebanyak 1,11 juta unit atau meningkat 10,8 persen dibandingkan pencapaian hingga Oktober tahun lalu yang sebanyak 1 juta unit.
Selain Thailand dan Indonesia, tiga negara produsen otomotif lain di kawasan Asean adalah Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Malaysia mencatatkan produksi 497.930 (0,7 persen), Filipina 77.216 (16 persen), dan Vietnam 97.430 unit (32,3 persen).
Ketua III Gaikindo Johnny Darmawan melihat banyak faktor yang menekan penjualan kendaraan saat ini. Di dalam negeri, kenaikan harga BBM bersubsidi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kebijakan pembatasan kredit kendaraan menjadi penyebab utama.
Secara volume penjualan, Johnny memprediksi penurunan akan terjadi hampir di semua segmen kendaraan roda empat. "Tahun ini kami perkirakan penjualan sama seperti tahun lalu sekitar 1,23 juta unit, dan tahun depan kemungkinan flat atau lebih rendah," katanya belum lama ini.