“Insentif contohnya menelaah pajak ekspor. Harus ditelaah satu persatu untuk tipe apa. Itu saja cukup kok. Kalau tidak, terkait komponen dan bahan baku yang masih impor. Banyak yang dari luar negeri dan dirakit di dalam negeri,” ujar Ketua Bidang Komersil AISI Sigit Kumala di Karawang, ungkapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sigit menilai harus ada skala produksi yang besar untuk mendapatkan harga jual motor yang kompetitif di luar negeri. Dia berharap dengan konsumsi domestik yang tinggi bisa membuat harga komponen lokal lebih murah sehingga tercapai angka produksi yang layak untuk ekspor.
Karenanya, dia meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan insentif fiskal yang terkait kegiatan ekspor. "Apalagi dengan adanya MEA 2015, Indonesia jangan sampai hanya jadi produsen terbesar, tapi juga harus jadi eksportir terbesar," tuturnya.
Setelah Indonesia, lanjut Sigit, pasar motor yang cukup besar di kawasan Asean saat ini adalah Vietnam, Myanmar, dan Thailand. "Thailand meskipun pasarnya sedang turun tapi dia bisa ekspor ke Amerika dan Eropa. Seharusnya Indonesia bisa juga merangsek ke pasar-pasar itu," katanya.