"Itu cuma untuk jaga-jaga kalau memang defisit lewat," jelas Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro kepada CNN Indonesia, Senin (15/12).
Dalam APBNP 2014, defisit fiskal ditetapkan sebesar Rp 241,49 triliun atau 2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Bambang menegaskan sejauh ini realisasinya belum melampaui target defisit tersebut. "(Defisit) belum (melampaui target)," ujarnya singkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan perhitungan Komite ALM tersebut Menkeu menetapkan besaran defisit dan pembiayaan yang melampaui target APBNP 2014 dengan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK).
"Pinjaman Siaga adalah pinjaman yang berasal dari lembaga multilateral dan bilateral, antara lain World Bank dan Asian Development Bank (ADB)," jelas Menkeu.
Komitmen pinjaman siaga dari Bank Dunia dalam kerangka Program For Economic Resilience, Investment and Social Assisstance in Indonesia (PERISAI). Sedangkan yang dijanjikan ADB berupa Precautionary Financing Facility atau Countercyclical Support Facility.
Sebagai informasi, sampai saat ini pemerintah telah mengantongi komitmen pinjaman siaga (standby loan) sebesar US$ 5 miliar atau setara dengan Rp 63,26 triliun (asumsi kurs Rp 12.643 per dolar AS). Komitmen tersebut diberikan oleh Bank Dunia sebesar US$ 2 miliar, Pemerintah Australia US$ 1 miliar, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) US$ 1,5 miliar, dan ADB US$ 500 juta.