“Setiap tahunnya, impor premium mencapai US$ 13 miliar. Pada saat bersamaan, Pertamina juga berencana membangun kilang berkapasitas 300 ribu barel per hari dengan biaya US$ 13 miliar,” kata Faisal dikutip dari situs resmi Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (19/12).
Menurut Faisal jika impor premium dihentikan selama satu tahun, sesungguhnya biaya yang bisa dihemat cukup untuk membangun kilang. “Jadi penyakitnya ada diimpor ini,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Harga BBM dari semua kilang di Indonesia, dari yang dibangun tahun 1930 di Plaju sampai yang paling muda yaitu kilang Kasim di Sorong, itu harganya lebih mahal daripada harga BBM yang kita impor. Ini penyakit yang sangat mendasar,” kata Agung.
“Kilang minyak baru tetap harus dibangun, dan kilang yang lama dibenahi,” ujarnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengaku perusahaannya sudah memahami hal tersebut sehingga mengusung program peningkatan kapasitas kilang yang dimilikinya sampai 2025 mendatang. Pertamina membutuhkan dana US$ 25 miliar untuk menambah kapasitas kilang tersebut sekaligus memperbaiki teknologi pengolahan minyaknya.
Menurut Ali kilang Pertamina ada yang dibangun tahun 1930 atau 1948, didesain hanya bisa mengolah minyak mentah jenis sweet yang harganya mahal di pasaran. Padahal 93 persen dari komponen biaya itu berasal dari minyak mentah.
“Dengan adanya program peremajaan yang direncanakan Pertamina, diharapkan kilang dapat mengolah jenis minyak mentah yang harganya murah di pasaran sehingga harga bahan baku bisa ditekan,” kata Ali.