Maklum, AirAsia sendiri awalnya adalah maskapai penerbangan milik Pemerintah Malaysia yang dibeli oleh ekskutif Time Warner, Tony Fernandes, dengan harga simbolik RM 1 pada 2 Desember 2001. Setahun dipegang Tony, perseroan langsung meraup laba berkat terobosan layanan penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC) yang tidak banyak pesaingnya ketika itu.
Dalam waktu singkat, AirAsia melalui tagline perusahaan “Now Everyone Can Fly” berhasil membuat jaringan penerbangan yang cukup luas karena kehadirannya diterima oleh banyak penumpang pesawat dari berbagai negara. Tak hanya menjelajah Asia, maskapai yang identik dengan warna merah ini juga melahap rute penerbangan ke beberapa kota di Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika memutuskan mengakuisisi AWAIR, Tony Fernandes mengajak beberapa pengusaha lokal membelinya. Sehingga komposisi kepemilikan saham perusahaan ketika beroperasi pertama kali pada 1 Desember 2005 menggunakan nama PT Indonesia AirAsia, terdiri dari 49 persen dimiliki oleh AirAsia International Limited kemudian pemegang saham lokalnya adalah Pin Harris sebesar 20 persen, Sendjaja Widjaja sebesar 21 persen dan PT Fersindo Nusaperkasa sebesar 10 persen.
Single Majority
Kendati saham mayoritas Indonesia AirAsia dipegang oleh investor domestik, tetapi kendali manajemen tersebut tetap dipegang oleh induk perusahaannya di Malaysia. Hal tersebut bisa dilihat dari tunduknya manajemen perusahaan kepada Rapat Umum Pemegang Saham AirAsia Berhad yang menentukan strategi pengembangan bisnis setiap kuartalan. Namun, untuk operasional maskapai, AirAsia tunduk dan patuh pada regulasi Indonesia.