Saat itu Minggu pukul 06.12 WIB, dan bukan hanya QZ8501 yang melintas di atas Selat Karimata. Bersama QZ8501, terbang pula 7 pesawat lain dalam jarak berdekatan. Total ada 8 pesawat yang melintas di langit yang sedang digayuti cuaca buruk. Ketika itu awan badai kumulonimbus menjulang sekitar 52 ribu kaki.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pesawat lain lebih banyak terbang di ketinggian 34, 36, dan 38 ribu kaki. Dia (QZ8501) termasuk yang paling rendah,” kata Direktur Safety and Standard AirNav Indonesia, Wisnu Darjono, di Kantor Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Senin (29/12).
QZ8501 diminta untuk menunggu pada posisi standby. Dua menit kemudian, pukul 06.14 WIB, ATC meminta QZ8501 untuk naik ke ketinggian 34 ribu kaki. Namun panggilan ATC itu tak dijawab QZ8501. Komunikasi terputus meski QZ8501 masih terlihat di radar. ATC kemudian meminta tolong kepada pesawat AirAsia lain yang terbang tepat di atas QZ8501, namun QZ8501 keburu menghilang dari radar.
“Penerbangan memang padat, tapi itu tidak jadi alasan (pesawat celaka). Separasi antara pesawat yang satu dengan yang lain cukup. Itu menghindari (awan badai) ke kanan dan kiri bisa,” ujar Wisnu.
Ia menyatakan awan kumulonimbus tidak menyedot pesawat. “(Mungkin QZ8501) kena empasan angin ke bawah. Teorinya seperti itu, sebab terbang di bawah kumulonimbus berbahaya,” kata Wisnu. (Baca Lapan: AirAsia Diduga Masuk Awan Badai Kumulonimbus)
Wisnu menegaskan, pilot QZ8501 telah tahu persis kondisi cuaca dalam rute penerbangan mereka sebelum pesawat berangkat. Setiap maskapai telah menerima prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofosika (BMKG).
Hal tersebut dibenarkan BMKG. Secara terpisah, Kepala BMKG Andi Eka Sakya menyatakan lembaganya telah menginformasikan adanya pertumbuhan awan kumulonimbus yang dapat membahayakan penerbangan. Awan itu melebar dari Kalimantan sampai Belitung Selatan.