Julio D. Manuputty, Head of Marketing Shell Indonesia mengaku selalu memantau perkembangan kebijakan harga BBM bersubsidi di Indonesia meskipun perusahaannya selama ini hanya menjual BBM non subsidi. Julio mengaku, kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM bersubsidi pada November 2014 lalu sebesar rata-rata Rp 2 ribu per liter turut berpengaruh terhadap penjualan BBM di SPBU Shell. Sebab selisih harga antara BBM bersubsidi yang dijual PT Pertamina (Persero) dengan BBM non subsidi yang dijual perusahaannya menjadi tidak terlalu jauh.
“Kami memiliki 73 SPBU di Jakarta, dan 2 SPBU di Bandung. Tidak bisa dipungkiri, sejak harga BBM bersubsidi naik seluruh SPBU kami lebih ramai dari sebelumnya,” ujar Julio kepada CNN Indonesia, Selasa (30/12) malam. Sayangnya, dia enggan menyebutkan berapa persen peningkatan penjualan yang bisa dilayani Shell tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Shell akan meneruskan bisnis ritel BBM nya di Indonesia karena melihat prospek bisnis tersebut sangatlah besar.
“Kita mau melihat, kebijakan terkait subsidi BBM pemerintah sustain atau tidak. Kami juga tidak bisa asal menyebut jumlah SPBU yang akan dibangun, kemudian dimana lokasinya karena investasi di bisnis ini lumayan tinggi,” katanya.
Julio menjelaskan, Shell tidak sendirian dalam mengoperasikan SPBU-SPBU yang dimilikinya. Namun melibatkan perusahaan lokal sebagai operator, sesuai dengan standar kualitas dan pelayanan yang berlaku untuk SPBU Shell secara internasional.
“Kami memasok BBM dari refinery kami yang ada di Singapura. Kemudian mengangkutnya ke storage di Tanjung Priok yang juga kami sewa dari perusahaan Indonesia untuk kemudian diteruskan ke SPBU-SPBU di Jakarta dan Bandung,” katanya.
Di SPBU yang dimilikinya, Shell menjual tiga jenis BBM yaitu RON 92 bernama Super dengan harga Rp 9.950 per liter, RON 95 bernama V-Power seharga Rp 11.450 per liter, dan Diesel Rp 11.250 per liter. Harga tersebut merupakan harga yang berlaku sampai 31 Desember 2014.