"Karena harga minyak dunia turun, kemudian jika pemerintah ambil kebijakan untuk mengelola energi dengan lebih tajam sebelum lewat tahun itu secara umum kami sambut baik" ujar Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo ketika ditemui di Gedung BI, Rabu (31/12).
Agus mengatakan harga energi perlu dikendalikan oleh pemerintah mengingat hal ini berdampak besar terhadap laju inflasi selama satu dekade terahir. Inflasi Indonesia, kata Agus, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara selevel di Asean.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, inflasi yang disumbang oleh harga BBM selama ini sangat berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat. Sebab, meningkatnya harga jual BBM akan mengurangi pendapatan riil masyarakat.
Dalam rangka pengendalian inflasi, Agus Martowardojo mengatakan tak cukup hanya dengan mengatus harga jual bahan bakar, tetapi perlu diimbangi pula dengan mengendalikan harga pangan. Bank sentral menekankan pentingnya menjaga kesinambungan dari sisi pasokan sesuai dengan tingkat kebutuhan pangan masyarakat yang terus meningkat.
Terhitung sejak 1 Januari 2015, harga jual premium turun sebesar Rp 900 per liter menjadi Rp 7.600 dan harga solar dikoreksi Rp 250 menjadi Rp 7.250 per liter. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah mencabut subsidi untuk jenis bahan bakar tersebut, dan mematok subsidi solar sebesar Rp 1.000 per liter. (ags/ags)