"BUMN akan kita suntik lagi seperti konstruksi atau infrastruktur misalnya Pelindo dan Angkasa Pura serta BUMN transportasi seperti PT Kereta Api Indonesia. Saya yakin hal itu bakal membuat ekonomi jauh membaik,” ujar Presiden Joko Widodo di gedung Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1).
Jokowi mengatakan penyuntikkan dana kepada BUMN diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur. Dia menilai pembangunan infrastruktur yang masif bakal menopang pertumbuhan ekonomi ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sudah dialokasikan sejumlah angka, tapi tentu ini masih tahap exercise akhir karena masih dalam penyusunan akhir Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” ujarnya.
“Nanti kita hitung lagi ruang fiskal yang ada. Apalagi ada kebijakan pengurangan dividen yang juga bisa mendukung kerja BUMN,” katanya.
Salah satu BUMN yang dipastikan akan menerima suntikan modal dari pemerintah adalah PT PLN (Persero) yang ditargetkan bisa membangun 12 ribu megawatt (MW) pembangkit listrik dari total 35 ribu MW pembangkit listrik yang akan dibangun pemerintah selama lima tahun ke depan.
Sementara itu, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bahkan sudah lebih dulu menerima tambahan penyertaan modal dari pemerintah. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada November 2014 lalu, Garuda melaporkan penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu sebanyak 17,64 juta saham. Private placement ini merupakan upaya Garuda mengonversi penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 8,4 miliar ke dalam bentuk 17,64 juta saham, dengan asumsi harga transaksi sebesar Rp 467 per saham.
Aksi korporasi ini secara otomatis akan mendilusi kepemilikan saham Garuda sebesar 0,009 persen dari pemegang saham saat ini. Artinya, jumlah saham yang dipegang masyarakat akan menjadi 13,53 persen, berkurang dari posisi saat ini 13,54 persen. Risiko lainnya dari aksi korporasi ini adalah akan menurunkan likuiditas saham di pasar reguler. (gen)