Pengembangan Bandara

Bersama Lion, Angkasa Pura II Siap Kelola Halim Perdanakusuma

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Rabu, 14/01/2015 10:53 WIB
Bersama Lion, Angkasa Pura II Siap Kelola Halim Perdanakusuma Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S. Sunoko (kanan) mendampingi Presiden Joko Widodo ketika hendak bertolak ke Singapura menghadiri wisuda anaknya. (ANTARA FOTO/Lucky R.)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura II (Persero) menyatakan siap mengelola bandara Halim Perdanakusuma yang akan dikembangkan oleh Lion Group mulai tahun ini. Kepastian tersebut diperoleh setelah TNI Angkatan Udara (AU) merestui rencana pengembangan Halim oleh Lion dengan syarat tetap melibatkan Angkasa Pura II yang telah menjadi pengelola atau operator bandara di Jakarta Timur tersebut sejak 13 Agustus 1984.

Direktur Utama Angkasa Pura II Tri S. Sunoko mengatakan perusahaannya siap membantu Lion dalam mengelola Halim seperti yang sudah dilakukannya selama ini.

“Konsep kerjasama sedang dibahas, Angkasa Pura II tetap sebagai pengelola. Hal ini sudah mendapat persetujuan dari TNI AU dan Komandan Pangkalan TNI AU (Danlanud) Halim Perdanakusuma. Tapi karena pembahasan masih terus dilakukan, informasinya perkembangan terbarunya cukup sampai disitu,” ujar Tri kepada CNN Indonesia, Rabu (14/1).


Dalam catatan CNN Indonesia, Angkasa Pura II sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit guna meningkatkan pelayanan Halim yang fungsi utamanya adalah sebagai basis pesawat tempur milik TNI AU tersebut. Pada 2012, perusahaan yang mengelola 13 bandara di seluruh Indonesia itu sudah mengeluarkan dana Rp 100 miliar demi bisa melayani penerbangan haji mulai 2013. Hal tersebut berangkat dari keputusan pemerintah yang memindahkan terminal haji di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng ke Halim.

Kemudian ketika 10 Januari 2014 pemerintah memutuskan Halim bisa melayani penerbangan reguler guna mengurangi tingkat kepadatan pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta, Angkasa Pura II juga telah melakukan perbaikan dan pengembangan di bandara tersebut sehingga bisa melayani 2,88 juta penumpang per tahun.

Guna mendukung kelancaran operasional penerbangan, perseroan merevitalisasi terminal penumpang sehingga bisa menampung sekitar 600 penumpang per jam dan menambah fasilitas check-in menjadi 10 meja konter dengan masing-masing dua jalur antrian. Di samping itu, sarana transportasi publik dari dan menuju Halim menggunakan bus Damri juga disediakan dengan tujuan ke Soekarno-Hatta, Gambir, Rawamangun, Pulogebang, Bogor, Bekasi,dan Depok.

Lima operator taksi juga diberikan izin resmi untuk beroperasi di Halim yaitu Cipaganti, Express, Sri Medali, dan Blue Bird Group. Angkasa Pura II juga menyediakan fasilitas lahan parkir yang dapat menampung hingga 700 unit kendaraan.

Sampai akhir Desember 2013, pendapatan Angkasa Pura II dari Halim mencapai Rp 58,08 miliar terdiri dari pendapatan jasa aeronautika sebesar Rp 19,08 miliar dan pendapatan jasa non-aeronautika Rp 39 miliar. Pendapatan dari Halim hanya berkontribusi sebesar 1,38 persen terhadap total pendapatan Angkasa Pura II pada 2013 sebesar Rp 4,2 triliun.

Izin TNI AU

Sebelumnya Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan dalam pertemuan yang dilakukan tiga pihak belum lama ini, TNI AU coba memberikan keputusan win-win solution baik bagi Lion sebagai calon investor pengembangan Halim maupun Angkasa Pura II yang selama ini menjadi operator bandara tersebut.

“Garis besarnya, kami menyetujui keinginan Lion untuk mengembangkan Halim namun tetap melibatkan Angkasa Pura II sebagai operator atau pengelolanya. Kami mendampingi keduanya sehingga bisa sama-sama memperoleh win-win solution,” kata Hadi.

Menurutnya pembicaraan lanjutan mengenai skema kerjasama antara Lion dan Angkasa Pura II masih terus dilakukan dengan sepengetahuan TNI AU. Namun menurut Hadi, TNI AU menegaskan kepada kedua perusahaan tersebut bahwa fungsi utama bandara Halim Perdanakusuma adalah tetap sebagai basis armada yang menjaga pertahanan dan keamanan negara.

“Oleh karena itu untuk penerbangan komersilnya akan kami atur, agar tidak mengganggu fungsi utamanya. Namun di lain sisi, kami juga mendukung kalau ada perusahaan yang ingin meningkatkan skala ekonomi dari Bandara Halim Perdanakusuma. Karena itu bisa menggerakkan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Hadi memperkirakan pembicaraan skema kerjasama antara Lion dan Angkasa Pura II bisa selesai sebelum semester I 2015, sehingga pengembangan bandara bisa segera dilakukan.

Pada 14 Oktober 2014, Lion Group mengumumkan telah menyiapkan dana sebesar Rp 5 triliun untuk mengembangkan Halim seluas 21 hektar sehingga mampu menampung pergerakan penumpang 11,5 juta per tahun dari kapasitas saat ini. Pengembangan kapasitas terminal penumpang Halim diperkirakan memakan waktu sekitar 9 bulan.

Edward Sirait, Direktur Umum Lion mengatakan rencana pengembangan Halim akan dilakukan oleh anak usaha perseroan yaitu PT Angkasa Transportindo Selaras bekerjasama dengan Induk Koperasi TNI Angkatan Udara (Inkopau) dengan komposisi kepemilikan saham 80-20 persen. Menurut Edward, Lion telah memiliki perjanjian kerjasama pemanfaatan lahan Halim seluas 21 hektare dengan Inkopau yang dibuat 2006 lalu dan berlaku selama 25 tahun atau sampai 2031. (gen)