"Saya bersyukur BI rate bulan ini tidak naik. Mudah-mudahan bulan depan turun. Karena perbankan selalu minta sinyal ke pemerintah. Kalau pemerintah kasih sinyal tentu BI juga kasih sinyal," ujarnya dalam pertemuan dengan para pelaku industri keuangan di Gedung Dhanapala, Jakarta, Jumat malam (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut JK, saat ini hal yang diperlukan adalah mengambil keputusan secara tepat dan cepat. Meski harus menanggung resiko, lanjutnya, pemerintah harus bisa meredam kepanikan pasar.
"Keuangan itu seperti darah dalam tubuh kita. Kalau kita tinggi tekanan darahnya, maka sulit bergerak. Kalau kerendahan darahnya, kita juga bakal pusing," ujarnya.
Sebelumnya BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75 persen, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00 persen dan 5,75 persen. Keputusan tersebut diambil melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar Kamis (15/1) sore, di Jakarta. (Baca: Jaga Defisit Transaksi Berjalan, BI Rate Dipertahankan)
"Evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 menunjukkan bahwa kebijakan tersebut tetap konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4±1 persen pada 2015 dan 2016, serta mendukung pengendalian defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Tirta Segara.
Menurut Tirta, kebijakan Bank Indonesia tetap diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi, mengelola defisit transaksi berjalan yang sehat, serta menjaga stabilitas sistem keuangan. BI sendiri memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2014 tumbuh sebesar 5,1 persen melambat dibandingkan dengan 5,8 persen pada tahun sebelumnya. (gir/gir)