Lukman Mahfoedz, Board of Director IPA pernah menjelaskan penurunan perkiraan investasi hulu migas tersebut terjadi karena mayoritas perusahaan minyak menahan diri untuk melakukan investasi akibat harga minyak dunia yang diperkirakan masih rendah sepanjang tahun ini.
Sinyalemen penghematan juga berembus dari PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara (BUMN) di sektor migas. Arief Budiman, Direktur Keuangan Pertamina menyebut penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini sebagai krisis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief menyebut, satu-satunya yang diuntungkan dari penurunan harga minyak mentah dunia adalah masyarakat yang notabene pembeli dari produk bahan bakar minyak (BBM) di sektor hilir. Semakin dalam penurunan harga minyak, maka harga jual BBM jenis premium, solar, pertamax, dan BBM non-subsidi lainnya bisa semakin murah harganya. (Baca: Harga Minyak Turun, Rakyat Untung Namun APBN Buntung)
Untuk menjaga tingkat profitabilitas tersebut, Arief mengatakan Pertamina mau tidak mau harus mengelola seluruh biaya-biaya operasional dan investasi dengan lebih ketat. Mantan bos PT McKinsey Indonesia tersebut meminta investasi apapun yang dikeluarkan perseroan harus membuahkan hasil. (Baca: Pertamina Teken MoU Pengembangan Kilang US$ 25 Miliar)
“Kalau harga dan keuntungan lagi naik, kita lebih loose-lah. Tetapi sekarang kita harus me-review lagi proses-proses bisnis, melakukan pengendalian keuangan dan investasi, mulai dari yang besar sampai yang kecil-kecil. Jadi kalau nanti perusahaan lebih ketat dalam pengendalian biaya, bukannya berarti kita mau asal ketat. Tetapi memang tuntutan bahkan kewajiban agar perusahaan tetap sehat,” tegasnya.
Arief menandaskan dalam kondisi sulit seperti ini, pemerintah sebagai pemegang saham Pertamina tetap menginginkan BUMN migas miliknya tersebut tetap menghasilkan keuntungan.
Sepanjang 2015, Pertamina menyiapkan anggaran belanja modal sebesar US$ 5 miliar atau hampir Rp 62 triliun. Anggaran tersebut rencananya akan dipakai untuk membiayai pengembangan Blok Mahakam dan beberapa proyek hilir (downstream) perseroan.
"Blok Mahakam itu membutuhkan dana investasi US$ 2,5 miliar sendiri. Sedangkan sisanya untuk membangun infrastruktur minyak dan gas (migas) di downstream," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto akhir tahun lalu.
Untuk menutupi kebutuhan tersebut, Dwi mengatakan pihaknya akan mengumpulkan dana dari kas internal, yang diambil dari laba bersih tahun ini. Selain itu, perusahaan migas pelat merah tersebut juga berencana menerbitkan surat utang atau obligasi, baik di pasar domestik maupun di pasar global. Namun, Dwi belum menentukan berapa target penerbitan obligasi berikut tenor dan kuponnya.
Sampai semester I 2014 lalu, Pertamina tercatat membukukan laba komprehensif yang diatribusikan kepada pemegang saham sebesar US$ 1,13 miliar. Turun 24,16 persen dibandingkan perolehan laba bersih semester I 2013 sebesar US$ 1,49 miliar. Meskipun Pertamina berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 36,73 miliar, naik 6,03 persen dibandingkan pendapatan semester I 2013 sebesar US$ 34,64 miliar namun beban usaha perseroan juga membengkak.
Pertamina tercatat menghabiskan biaya US$ 33,23 miliar sepanjang semester I 2014 atau naik 6,5 persen dibandingkan periode yang sama di 2013 sebesar US$ 31,2 miliar. (gen)