Seperti dilansir Reuters, Tiongkok, yang merupakan konsumen energi terbesar di dunia, juga berkontribusi dalam pelemahan harga minyak seiring adanya tekanan dalam perekonomiannya. Tiongkok diekspektasikan memiliki perlambatan pertumbuhan ekonomi sebesar menjadi 7,2 persen dibanding setahun yang lalu. Bahkan biro statistik Tiongkok menunjukkan bahwa harga perumahan semakin turun selama empat bulan berturut-turut.
Harga Brent berada pada angka US$ 48,84 per barrel, atau turun sebesar US$ 1,33. Sementara minyak mentah AS nilainya turun sebesar US$ 1,17 ke angka US$ 47,52 per barrel. Volume perdagangan bagi minyak mentah sangat rendah dan hingga saat ini belum ada harga pasti bagi minyak mentah AS mengingat bursa saham AS masih tutup akibat peringatan Martin Luther King Jr.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Irak telah menghasilkan rekor produksi minyak sebesar empat juta barrel per hari pada bulan Desember kemarin. Menteri Perminyakan Irak Adel Abdel Mehdi mengatakan bahwa peningkatan produksi ini muncul dari terminal selatan dan masih adanya suplai dari utara melonjak.
"Meskipun harga minyak turun menjadi US$ 25 per barrel, industri perminyakan tak akan terancam" ujar Zanganeh seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/1). (gir/gir)