“Akhirnya baru hari ini kami teken memorandum of understanding (MoU) sewa 60 hektare lahan dengan Freeport. Mereka akan menyewa lahan selama 20 tahun yang biayanya akan dibayar setiap tahun,” kata Hidayat usai melakukan penandatanganan MoU di Jakarta, Kamis (22/1).
Untuk merealisasikan MoU tersebut menjadi kontrak sewa lahan, Hidayat menjelaskan Petrokimia Gresik dan Freeport akan membentuk tim yang akan membahas lebih detil biaya sewa, tambahan luas lahan jika diperlukan, hingga sejumlah fasilitas tambahan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan smelter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi pemerintah mendesak manajemen Freeport untuk melaporkan kemajuan proses pembangunan smelternya di Gresik, Jawa Timur. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengancam jika sampai 24 Januari 2015, manajemen belum melaporkan perkembangan proyek tersebut maka pemerintah akan melarang kegiatan ekspor konsentrat Freeport.
Maroef Sjamsuddin, mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negera (BIN) yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia sebelumnya menjelaskan smelter Freeport akan dibangun bersebelahan dengan smelter milik PT Smelting.
Sesuai rencana awal pembangunan smelter Gresik yang diajukannya, manajemen Freeport mengatakan kapasitas produksi smelter tembaga katoda itu mencapai 2 juta ton per tahun dan menelan biaya investasi mencapai US$ 2,3 miliar. (gen)