"IMF juga memang selalu merevisi. Kalau kita gak bisa lagi merevisi, kita pakai angka final. Kami sering mengkritik mereka (IMF dan Bank Dunia) karena mereka selalu memandang pesimistis Indonesia, itulah yang membuat prediksi mereka di bawah ADB. ADB paling dekat dengan kita," kata Bambang di Jakarta, Jumat (23/1).
Sebelumnya ADB merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini. Ekonomi Indonesia pada 2015 diperkirakan tumbuh 5,6 persen. Angka tersebut lebih rendah dari outlook ADB sebelumnya yang memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen pada 2014 dan 5,8 persen di 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin itu angka yang paling realistis tentunya gak mengurangi more or less. Untuk mencapai 5,6 persen pun membutuhkan extra effort, tapi pemerintah harus membuktikan dan membuat sesuatu yang berbeda dari selama ini," katanya.
Pemerintah tengah mengajukan asumsi makro yang digunakan dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 kepada anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam usulan APBNP tersebut pemerintah menggunakan beberapa asumsi, salah satunya asumsi pertumbuhan ekonomi, inflasi, harga minyak dunia dan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Bambang pun mengakui pemenuhan target pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015 sangatlah berat. "Asumsinya saya paham ada pro-kontra, tapi intinya asumsi kita lihat dari sudut yang realistis, kami berharap semua pihak untuk juga lakukan extra effort. Penyerapan sebaik mungkin dan tepat sasaran," ujar Bambang. (gen)