Pertama adalah menyelesaikan penyusunan kontrak sewa dan pemanfaatan lahan seluas 60-80 hektare milik PT Petrokimia Gresik yang akan dijadikan lokasi pembangunan smelter. Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu mengatakan biaya sewa lahan yang harus dibayarkan Freeport selama 20 tahun masih dalam tahap pembahasan.
Kedua setelah memiliki kontrak sewa dan pemanfaatan lahan, Freeport kemudian harus mempersiapkan lahan tersebut mulai dengan melakukan pembersihan, mengajukan izin pembangunan ke Pemerintah Daerah setempat, membuat analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), dan mempersiapkan detail engineering design dari smelter tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Maroef memberi sinyal bahwa Freeport membuka kesempatan kerjasama dengan perusahaan lain untuk membangun smelter Gresik.
Meskipun tidak menegaskan bahwa Freeport akan bekerjasama dengan PT Smelting yang smelternya berada di sebelah smelter yang baru akan dibangunnya, namun Maroef menyebutkan total kapasitas produksi dua smelter jika digabungkan akan menjadi tiga juta ton.
“Saya petakan kemarin, jadi akan meningkatkan dari 1 juta ton (kapasitas smelter milik PT Smelting) ditingkatkan 2 juta ton (milik Freeport) jadi 3 juta ton konsentrat. Tapi itu nantilah, yang pasti Freeport sudah menunjukkan komitmen ke pemerintah terkait lokasi smelter yang akan kami bangun,” katanya.
Freeport sendiri memiliki saham sebanyak 25 persen di PT Smelting, sementara pemegang saham lainnya adalah Mitsibushi Corporation Unimetal Ltd 9,5 persen, Nippon Mining and Metals Co. Ltd 5 persen, dan saham mayoritas dipegang oleh Mitsubishi Materials Corporation sebanyak 60,5 persen. (gen)