"Tentu saja (keuangan terganggu), dan bukan hanya Pertamina semuanya. Upstream-nya pasti terpukul dan itu otomatis profitabilitas dari upstream kena," ujar Dwi di Istana Negara, Kamis (5/2).
Untuk menjaga kinerja keuangan, Dwi Soetjipto mengatakan Pertamina akan melakukan efisiensi. Salah satunya adalah dengan mengalihkan hak pembelian migas dari Pertamina Energy Trading (Petral) Ltd ke PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk 2015, Dwi Soetjipto mengatakan pihaknya masih mengkaji dan mengkalkulasi potensi laba dan strategi bisnis perseroan. "Insya Allah pertengahan bulan ini bisa selesai review karena kan posisi harga minyaknya berbeda," jelas Dwi.
Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Januari 2015 tercatat US$ 45,3 per barel, turun US$ 14,26 per barel atau 23 persen dibandingkan Desember 2014 yang sebesar US$ 59,56 per barel.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Arief Budiman mengatakan laba Pertamina berpotensi tergerus 50 persen akibat kejatuhan harga minyak dunia. “Penurunan harga minyak mentah itu luar biasa. Pada kuartal III 2014 lalu harganya masih di US$ 100 per barel, sekarang sekitar US$ 51 per barel. Maksudnya dari sisi potensi profit, penurunan ini bisa 40 persen sampai 50 persen,” ujar Arief, belum lama ini.
Indonesian Petroleum Association (IPA) memperkirakan nilai investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) tahun ini akan turun sebesar 20 persen menjadi US$ 25,6 miliar dibandingkan proyeksi investasi 2014 sebesar US$ 32 miliar. (ags/ags)