Torehan ini sekaligus menjadi posisi terendah rupiah semenjak krisis keuangan 1998 dan juga melebihi batas asumsi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 yang dipatok Rp 12.500 per dolar AS.
Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research memprediksi rupiah akan semakin melemah sepanjang 2015 seiring kebijakan bank sentral AS, The Fed yang berencana menaikkan suku bunganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Penurunan suku bunga dikhawatirkan akan semakin memperlemah rupiah,” kata Gundy di Jakarta, Rabu (25/2).
Padahal, nilai tukar efektif riil atau real effective exchange rate (REER) yang dikeluarkan Bank of International Settlements (BIS), kurs rupiah saat ini justru lebih kompetitif dibandingkan dolar AS. Per Januari 2015, indeks nilai rupiah sebesar 91,9 poin atau 8,1 persen lebih rendah dari rata-rata indeks per bulan yang dipatok pada angka 100.
Jika tidak mampu memacu kinerja ekspor, dia memperkirakan rupiah bisa terus melemah. Apalagi ekonomi ditargetkan tumbuh sebesar 5,7 persen pada tahun ini. Artinya impor barang modal pun akan meningkat, sehingga menaikkan permintaan dolar AS. (gen)