Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman bahkan berkeyakinan, PLTU dengan kapasitas 2x1.000 Megawatt (MW) tersebut bisa mulai beroperasi pada 2018 setelah para investor yang tergabung dalam konsorsium PLTU Batang menyelesaikan urusan pendanaan (financial closed). Pasalnya salah satu syarat finansial closed itu ialah penyelesaian pembebasan lahan.
"Secepatnya bisa finansial closed, setelah itu mulai dibangun. Sekitar akhir 2018 atau awal 2019 sudah bisa beroperasi," kata Jarman di Jakarta, Kamis (5/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jarman mengungkapkan perubahan target waktu penyelesaian tidak berdampak signifikan terhadap nilai investasi proyek tersebut. "Investasinya masih sekitar US$ 3,2 miliar," ujarnya.
Sebagai informasi, Bhimasena Power Indonesia ditetapkan sebagai konsorsium yang memenangkan lelang proyek PLTU Batang. Anggota konsorsium berikut kepemilikannya terdiri dari PT Adaro Energy 34 persen, J-Power 34 persen, dan Itochu 32 persen. (gen)