"Selama ini kami hanya membuat turbin gas dan generator pembangkit. Kalau cuma jual alat sepertinya kontribusi di Indonesia masih kurang signifikan. Kalau memang diperlukan, kami akan ikut serta (sebagai IPP) tapi skala tidak akan besar karena kami belum berpengalaman,” ujar Chief Executive Officer GE Indonesia Handry Satriago di Jakarta, Selasa (10/3).
Handry mengungkapkan, rencana ekspansi usaha tersebut tak lepas dari program pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW) yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya dari total kapasitas 35 ribu MW itu, 20 persen diantaranya merupakan pembangkit listrik berbasiskan energi baru terbarukan yang menjadi fokus bisnis GE.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui Alstom?
Sayangnya, saat dikonfirmasi apakah akuisisi tersebut memiliki kaitan dengan upaya ekspansi GE di sektor ketenagalistrikan Indonesia, Handry enggan menjelaskan lebih lanjut.
"Saya pikir masih terlalu dini untuk menjelaskan akuisisi tersebut. Kalau ditanya apakah GE tertarik, kami tertarik dan sangat ingin berkontribusi di Indonesia," cetus Handry.
Saat ini, GE Indonesia diketahui memiliki sedikitnya delapan lini bisnis. Tiga lini yang menjadi penopang bisnis perusahaan meliputi penjualan komponen teknologi untuk industri aviation, health care, serta minyak dan gas bumi (migas).
Akan tetapi di tengah pelemahan harga minyak dunia, divisi migas GE Indonesia dipastikan bakal turut terdampak. Untuk menyiasati hal tersebut, manajemen pun tengah menyiapkan strategi alternatif untuk menjaga kinerja perusahaan.
"Oil and gas akan terganggu. Tapi bisnis pembangkit listrik akan tumbuh ditengah pelemahan harga minyak dunia. Ke depan kami yakin lini usaha power bisa meningkat," pungkasnya. (gen)