Rupiah Jeblok, BI Isyaratkan Kebijakan Moneter Ketat

Elisa Valenta Sari & Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2015 15:12 WIB
Meski kebijakan moneter diisyaratkan bakal ketat, tetapi pengamat ekonomi menilai BI sebaiknya berlaku moderat terhadap intervensi pasar uang. Gubernur Bank Indonesia [BI], Agus MartoWardojo di Kantor Wapres, Jakarta, Kamis (20/11). (CNN Indonesia/Noor Aspasia Hasibuan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Guna menjaga nilai tukar rupiah Bank Indonesia akan kembali menerapkan kebijakan moneter dengan arah yang ketat. Di sisi lain pengamat ekonomi menilai, hingga data ekonomi Indonesia pada kuartal I keluar, pemerintah sebaiknya melakukan intervensi yang moderat.

Kurs tengah rupiah ditransaksikan melemah 0,11 persen terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (13/3). Berdasarkan data BI, kurs tengah rupiah bertengger di level Rp 13.191 per dolar AS, dari kurs tengah sebelumnya Rp 13.176 per dolar AS.

"Arah kebijakan BI akan fokus pada menjaga stabilitas ekonomi makro dan posisi kita secara moneter cautious dan bias ketat," kata Agus saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3).


Agus mengatakan arah kebijakan tersebut akan diterapkan dengan memperhitungkan target inflasi tahun 2015 dan 2016 yakni plus minus 4 persen. Selain itu kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang diarahkan ke arah 2,5 hingga 3 persen juga masih akan menjadi fokus bank sentral.

"Namun kita juga punya arah kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap menjaga cadangan devisa yang sehat karena kita ingin bahwa secara umum ada keseimbangan," katanya.

Di sisi lain, menurut Agus, BI juga akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makro prudensial, meningkatkan pendalaman pasar, dan mendorong tersedianya fasilitas hedging agar tidak terjadi risiko nilai tukar yang berlebihan, risiko likuiditas maupun kredit berlebihan.

"BI akan mendorong perbankan untuk mempersiapkan fasilitas lindung nilai dan pertemuan antara yang membutuhkan dan menawarkan lindung nilai," ujarnya.

Intervensi BI Diharap Moderat

Sementara itu, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, harus diakui, nilai tukar rupiah ikut terseret pelemahan hampir semua mata uang utama terhadap dolar AS. Apalagi, adanya wacana penurunan suku bunga AS menjadi pemicu yang dinilai besar.

“Bank Indonesia pun saya kira memliki wacana untuk menurunkan suku bunga. Kita memang sedang memasuki era di mana pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu fokus,” ujarnya kepada CNN Indonesia, Jumat (13/3).

Namun, di sisi lain, meskipun rupiah terus melemah dalam jangka waktu dekat, Satrio menilai sebaiknya Bank Indonesia melakukan intervensi dalam ranah yang moderat. Jangan sampai malah terjadi adanya pemborosan.

“Kita tunggu saja sampai data ekonomi Indonesia pada kuartal I keluar pada bulan depan. Jangan terlampau panik. Jika datanya positif, maka tidak ada yang salah dengan perekonomian kita,” jelas Satrio.

Senada, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan faktor utama pelemahan rupiah adalah secara eksternal yaitu potensi kenaikan suku bunga acuan AS. Tekanan semakin membesar karena BI rate dipangkas dan masih ada potensi pemangkasan lagi karena terjadi deflasi di bulan Februari.

“Namun menurut saya BI sebaiknya melakukan intervensi moderat seperti yang dilakukan selama ini. Hal itu cukup untuk menghambat laju pelemahan agar tidak terlalu volatile,” jelasnya kepada CNN Indonesia. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK