Berangkat dari hal itu, Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al Aimi menolak jika OPEC disalahkan dengan kondisi harga minyak saat ini, yang masih rendah di kisaran US$ 40 sampai US$ 50 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak ayal, akibat upaya ini harga minyak sulit beranjak dari level US$ 50 per barel atau turun tajam dari harga tahun lalu yang berada di atas US$ 100 per barel. "Produksi OPEC adalah 30 persen dari pasar, sementara 70 persen lainnya dari non-OPEC. Kalau mau meningkat semua orang harus berpartisipasi," tutur Naimi.
Tak ada konspirasi
Menanggapi kejatuhan harga minyak, lanjut Aimi, dirinya menampik jika beberapa negara Arab melakukan konspirasi guna menurunkan harga menyusul pengembangan minyak shale oleh Amerika Serikat. Ia pun menegaskan bahwa pemerintah Arab Saudi tidak memiliki peran dalam menurunkan harga minyak.
"Tidak ada konspirasi dan kami ingin memperbaiki semua hal dengan menjaga stabilitas pasar dan keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Namun (berkaitan dengan) harga, pasarlah memutuskan itu," tegasnya.
Aimi melansir, saat ini produksi minyak Arab Saudi berkisar 10 juta barel per hari (bph) dan memiliki kemampuan untuk meningkatkan angka produksi. Adapun besaran peningkatan bisa menjadi 12,5 juta Bph jika pelanggan meminta.
"(Tapi) saat ini tidak ada rencana karena tidak ada permintaan," pungkas Aimi. (ags)