Jokowi menjelaskan, dirinya meminta Toyota sebagai salah satu perusahaan otomotif besar dunia yang beroperasi di tanah air melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi mobil khusus ekspor kepada konsumennya di seluruh dunia.
“Saya bertemu Presiden Toyota Akio Toyoda, saya minta Indonesia dijadikan sebagai product service khusus untuk ekspor,” kata Jokowi, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Rabu (25/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Paling tidak saya minta sama ekspornya dengan Thailand. Sekarang Thailand itu ekspor mobil Toyota sekitar 700 ribuan, sementara Indonesia baru 200 ribuan, tadi kita dapat komitmennya itu,” kata Jokowi.
“Kalau investasi Rp 20 triliun Toyota masuk, saya yakin perusahaan otomotif lain akan ikut karena investasi ini adalah bagaimana membangun kepercayaan,” jelasnya.
Pabrik Mesin Ketiga
Sebelumnya TMMIN berencana mengoperasikan pabrik mesin mobil pada 2016 mendatang. Pembangunan pabrik mesin mobil senilai Rp 2,3 triliun ini merupakan salah satu bagian dari rencana investasi korporasi sebesar Rp 13 triliun yang realisasinya dilakukan secara bertahap.
"Kami akan segera mengoperasikan plant ketiga di Karawang pada tahun 2016 yang diharapkan memiliki kapasitas double dari plant yang kita miliki sekarang," ujar Wakil Presiden Direktur PT TMMIN Warih Andang Tjahjono ketika ditemui di Kementerian Perindustrian, Jumat (20/3).
Pembangunan pabrik ketiga ini telah dilakukan sejak tahun lalu, namun rencana pembuatannya sudah diwacanakan sejak tahun 2012. Selain itu, rencananya hasil produksinya akan berorientasi ekspor dimana proporsinya mencapai setengah dari total kapasitas produksi.
Sedangkan kapasitas produksinya sendiri diharapkan bisa melebihi dari kapasitas produksi mesin mobil dari pabrik sebelumnya, dimana kapasitas untuk mesin mobil saat ini baru mencapai 216 ribu unit per tahun. Dengan kata lain, Toyota berharap bisa menambah kapasitas produksinya menjadi 432 ribu unit mesin mobil.
TMMIN juga memutuskan akan meningkatkan porsi ekspor hasil produksinya sebesar 10 persen. Hal tersebut guna mengantisipasi kemungkinan berkurangnya penjualan mobil di dalam negeri.
Andang menyebut angka pertumbuhan 10 persen untuk ekspor mobilnya ke luar negeri. Dia mencatat realisasi ekspor mobil Completely Build Up (CBU) TMMIN tahun lalu sebesar 173 ribu unit, sehingga tahun ini perseroan menargetkan bisa menambah ekspor hingga 190 ribu unit tahun ini.
"Meskipun kondisi global masih kurang baik, tapi kami usahakan agar hasil produksi tetap kompetitif di luar negeri karena kami pegang sekitar 80 persen ekspor CBU dari Indonesia," tuturnya.
Sebelumnya PT Isuzu Astra Motor Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan penjualan yang lemah pada kuartal I 2015. Presiden Direktur Isuzu Astra Motor Indonesia Yohannes Nangoi memperkirakan penjualan kuartal I ini berkisar antara 6.500 hingga 7 ribu unit. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, realisasi penjualan Isuzu mencapai 7.920 unit. (gen)