Harjanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin, mengungkapkan kecenderungan turun pertumbuhan industri terjadi sejak 2012. Penurunan pertumbuhan industri, kata Harjanto, selaras dengan penurunan ekspor dan impor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semakin menurunnya daya saing industri nasional, kata Harjanto, menjadi ancaman utama deindustrialisasi di Tanah Air. Hal ini tercermin dari peringkat daya saing Indonesia yang masih berada di bawah negara-negara ekonomi utama di Asean.
"Sektor manufaktur adalah kunci suatu negara lepas dari middle income trap. Tidak ada negara yg sukses meningkatkan income per kapita tanpa memiliki sektor manufaktur yang kuat," ujar Harjanto.
Membalik Keadaan
Untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah, Harjanto mengatakan peran industri harus mencapai sekitar 40 persen terhadap ekonomi atau produk domestik bruto (PDB).
Sejalan dengan program Nawa Cita, lanjut Harjanto, pemerintah telah merancang program cepat pembangunan sektor manufaktur dalam lima tahun ke depan. Ada 10 program yang dirancang pemerintah, antara lain dengan membangun 14 kawasan industri di luar Pulau Jawa, mendorong hilirisasi industri tambang dan pertanian, serta menyediakan fasilitas atau insentif bagi investasi di industri pengolahan.
Kementerian Perindustrian menargetkan industri non-migas tumbuh 6,8 persen pada tahun ini. Harjanto mengatakan sektor manufaktur diharapkan semakin meningkat pertumbuhannya menjadi 8,5 persen pada 2020 dan menembus 9,1 persen pada 2025.
Sejalan dengan optimisme tersebut, Harjanto mengatakan sumbangan industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) diharapkan semakin besar dari tahun ke tahun. Demikian pula dari sisi ekspor dan serapan tenaga kerja, diharapkan meningkat seiring dengan geliat manufaktur. (ags/gen)