“Pertamina menyebut keekonomian harga Ron88 (premium) itu sekitar Rp 8.000-an per liter. Persoalannya, apa sih sebetulnya keekonomian. Pertamina punya versi keekonomian, sementara pemerintah punya versi keekonomian. Jadi yang benar mana,” ujar Faisal Basri, Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas di Jakarta, Rabu (1/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan informasi yang diperoleh, sebelum 2015, komponen alfa berada pada level Rp 728 per liter. Angka tersebut merupakan kalkulasi dari 3,32 persen harga minyak mentah di pasar Singapura (mean of platts Singapore/MOPS) ditambah dengan Rp 484 per liter berikut komponen gamma.
Belum genap sebulan, formulanya kembali diubah pada 19 Januari 2015, di mana variabel yang diperhitungkan adalah 3,92 persen MOPS ditambah Rp 1.022 per liter. Mengacu pada perhitungan ini, maka komponen alfa menjadi Rp1.195 per liter.
Sebulan kemudian, 19 Februari 2015, rumusnya kembali diotak-atik, yakni 3,92 persen HIP ditambah Rp 830 per liter sehingga alfanya menjadi Rp 1.011 per liter.
“Kenapa diubah? karena komisi VII meminta penyesuaian BBM per satu bulan dan alfanya Rp 1.000 per liter. Jadi (rumusan) ini akan berubah terus karena mencari pola,” jelas Faisal.
Melihat kejanggalan tersebut, Faisal mengatakan timnya meminta pemerintah menetapkan rumusan yang baku mengenai formula pembentukan harga BBM.
“Sebab itu kami meminta pemerintah memperkokoh dan memantapkan formula ini agar lebih akuntabel. Karena kalau berubah-ubah dan harga premium pakai rumus ini akan mendekatkan ke harga Pertamax. Pertanyaannya sekarang, pertamax-nya kemurahan atau premiumnya kemahalan,” tuturnya.
(ags)