“Optimisme juga didasarkan kepada kecenderungan jumlah permohonan izin investasi dari Jepang dan Tiongkok (on the pipeline) yang cenderung meningkat,” ujar Kepala BKPM Franky Sibarani seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (2/4).
Dia mengungkapkan, permohonan izin investasi dari Jepang periode Oktober 2014 hingga Maret 2015 sudah mencapai US$ 2,7 miliar. Sementara permohonan investasi dari Tiongkok periode Oktober 2014 hingga Maret 2015 mencapai US$ 13,66 Miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Franky menambahkan, komitmen Tiongkok dalam sektor infrastruktur cukup penting, karena pemerintah dalam lima tahun ke depan berfokus terhadap pembangunan infrastruktur. Menurutnya rencana pembangunan infrastruktur lima tahun mendatang diperkirakan membutuhkan biaya hingga US$ 460 miliar, di mana anggaran negara baik APBN dan APBD memiliki porsi 22 persen -nya.
“Pemerintah juga akan memanfaatkan optimal keberadaan Asia Investment Infrastructure Bank (AIIB),” jelas Franky.
Sebagai tindak lanjut atas kunjungan, Franky menjelaskan BKPM akan mengawal proses realisasi seluruh komitmen investasi tersebut, sehingga rasio investasi dari kedua negara akan meningkat. BKPM akan memaksimalkan unit yang ada untuk melakukan end to end proses pelayanan investasi, termasuk perizinan hingga proses realisasi investasi ke daerah. (gir)