Pada konferensi pers singkat di sela Konferensi Asia Afrika, Rabu (22/4), Jokowi mengatakan bahwa dalam pertemuan itu dia menagih implementasi kesepakatan pembangunan kereta cepat yang sebelumnya telah beberapa kali dibahas.
"Tadi bukan kesepakatan lagi, karena kita sudah bertemu tidak hanya dua kali. Pertemuan tadi menagih implementasi kesepakatan yang sudah kita lakukan. Tadi ada beberapa yang langsung diputuskan, tahun ini bisa dikerjakan," kata Jokowi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, juga di sela KAA, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno telah menandatangani MoU kerangka kerja sama untuk melandasi studi kelayakan secara detail dan struktur finansial proyek pembangunan kereta cepat (high speed train) dengan Tiongkok.
Sayangnya, Rini mengatakan belum ada angka pendanaan yang disepakati kedua belah pihak. Pada kesempatan itu juga digunakan RIni untuk menekankan kembali permintaan transfer teknologi oleh Tiongkok ke Indonesia.
Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sempat menarik minat Jepang dan Tiongkok. Namun, pada Januari lalu Japan Bank for International Cooperations (JIBC) menyatakan bahwa Jepang sudah tidak tertarik lagi dengan proyek kereta cepat senilai Rp 100 triliun untuk rute Jakarta - Surabaya.
Franky Sibarani, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mengkalkulasi nilai proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sekitar US$ 6,55 miliar atau sekitar Rp 84 triliun. Salah satu komitmen investasi yang sudah dikantongi BKPM berasal dari Tiongkok sebesar US$ 24,9 miliar.
BKPM mencatat rasio realisasi investasi asal Tiongkok selama periode 2005-2014 hanya 7 persen dari total komitmen US$24,27 miliar atau sebesar US$1,8 miliar. Angka ini lebih kecil dibandingkan rasio realisasi Jepang, yang sebesar US$ 16,6 miliar atau 62 persen dari total komitmen US$ 26,61 miliar. (ags/ags)