“Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun agak dalam karena memang mengkonfirmasi perlambatan ekonomi yang berpotensi masih besar. Namun, jika nanti perlambatan ekonomi memang melambat kemungkinan bisa tertolong pada kuartal II karena momentum Ramadan,” ujar Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Asset Manajemen kepada CNN Indonesia, Minggu (4/5).
Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 348,9 poin atau 6,42 persen dan bertengger di level 5.086. Investor asing tercatat melepas 1,28 miliar lembar saham di bursa nasional dalam empat hari menjelang Mei, dengan nilai modal asing yang keluar secara bersih mencapai Rp 7,09 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lana menilai, sebagian investor terutama fund manager di Amerika Serikat memang cenderung berjualan pada bulan Mei. Menuruynya, para fund manager di AS biasanya melakukan liburan pada Juni jika selama kuartal I kinerja para perusahaan dianggap tidak sebaik ekspetktasi.
Menurutnya, para investor pada saat ini memang tengah menunggu data pertumbuhan ekonomi pada kuartal I, khususnya terkait indeks penjualan dan daya beli. Alasannya, lanjut Lana, kebanyakan emiten Indonesia bergerak di bidang usaha hilir yang bergantung dari daya beli.
“Kemarin, perusahaan besar banyak yang di bawah ekspektasi, seperti PT Astra International Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Saya kira ada kaitan dengan penaikan bahan bakar minyak (BBM) dan pelemahan rupiah sebelumnya,” jelasnya.
Untuk sentimen global, lanjutnya, berasal dari rencana penaikan suku bunga acuan AS (Fed rate). Namun, Lana menilai, meski terdapat sinyal adanya penaikan pada tahun ini, tetapi bakal dilakukan pada akhir tahun, atau malah di awal tahun depan.
“Untuk sementara, saya kira BI rate masih bisa dipertahankan dulu. Tapi memang menjadi sulit ketika kita masih memiliki masalah di neraca transaksi berjalan,” jelasnya.