“Masih terjadi kelebihan pasokan di pasar. Kondisi ini membuat pertumbuhan permintaan terendah dalam lima tahun terakhir yang membuat harga batubara tetap rendah. Di kuartal I harga rata-rata batubara Adaro turun 14 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” ujar Presiden Direktur dan CEO Adaro Garibaldi Thohir dikutip dari keterangan resmi, Senin (4/5).
Sepanjang kuartal I 2015, produksi batubara Adaro tercatat turun 5,93 persen menjadi 13,16 metrik ton (MT) dibandingkan produksi kuartal I 2014 sebanyak 13,99 MT. Bersamaan dengan itu, volume penjualan turun 3 persen menjadi 13,44 MT dari sebelumnya 13,85 MT. Kondisi tersebut berimbas pada pendapatan perseroan yang turun 16 persen selama tiga bulan pertama di 2015 menjadi AS$ 711 juta dari sebelumnya AS$ 845 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara bisnis jasa pertambangan tetap memberi kontribusi di angka AS$ 34 juta, tidak mengalami perubahan dibandingkan kuartal I 2014. Serta bisnis lainnya menyumbang AS$ 18 juta, turun 5 persen dibandingkan kuartal I 2014.
“Sedangkan fundamental jangka panjang sektor batubara dan energi tetap kuat. Dalam situasi harga batubara yang lemah ini, Adaro akan terus berfokus untuk menjaga modal, efisiensi biaya dan mengurangi utang,” ujar Boy.
Efisiensi dan Ekstensifikasi Bisnis
Guna mengoptimalkan penjualan batubara sehingga bisa menciptakan laba saat harga sedang rendah, Adaro melakukan efisiensi biaya termasuk untuk bahan bakar, biaya pengangkutan, serta penanganan di kuartal I 2015 dan akan dilanjutkan sepanjang tahun ini.
Sampai Maret 2015, biaya kas batubara di luar royalti turun 6 persen menjadi AS$ 28,15 per ton, atau lebih rendah daripada panduan tahunan yang telah ditetapkan pada kisaran AS$ 31 sampai AS$3 3 per ton.
Sementara untuk mengantisipasi fluktuasi harga minyak, Adaro menurut Boy telah melakukan lindung nilai (hedging) terhadap sekitar 30 persen kebutuhan bahan bakar di 2015 dengan harga pada rentang atas AS$ 0,70 per liter.
“Harga lindung nilai bahan bakar ini masih di bawah anggaran perusahaan untuk tahun 2015, sehingga mendukung upaya untuk bertahan di bawah panduan biaya kas batubara. Dalam situasi harga batubara yang lemah ini, Adaro akan terus berfokus untuk menjaga modal, efisiensi biaya dan mengurangi utang,” katanya.
Selain melakukan efisiensi biaya operasional, Adaro juga akan melakukan ekstensifikasi bisnis dengan mengembangkan pembangkit listrik mulut tambang.
“Kami berencana membangun pembangkit listrik dengan kapasitas total 35 Gigawatt (GW) dalam lima tahun ke depan, yang sebagian besar akan merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Strategi yang diambil untuk mengembangkan bisnis non pertambangan batubara telah membantu untuk bertahan dalam kondisi pasar batubara yang masih lemah,” ujarnya. (gen)