"Karena mereka selalu menjadikan harga minyak dan inflasi sebagai alasan untuk menaikkan tarif. Memang sekarang proporsi penggunaan energy mix-nya seperti apa? Apakah minyak masih memiliki dampak yang besar sekali pada BPP (Biaya Pokok Produksi)?" ujarnya saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (5/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tak ada perbaikan, menurut Tumiran, masyarakat pun akan selalu menjadi korban dari tidak transparannya pengelolaan keuangan khususnya efisiensi di dalam biaya produksi listrik.
Sejak 1 Mei kemarin PLN kembali menaikkan harga jual tarif listrik untuk pelanggan rumah mewah, mal, industri hingga fasilitas kelistrikan pemerintah.
PLN telah menerapkan tariff adjustment yang penentuan harganya didasarkan pada inflasi, harga acuan minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP), dan kurs. Akan tetapi, meski golongan rumah dengan daya 1.300 va (volt ampere) dan 2.200 va juga telah diberlakukan tariff adjustment, namun tarif pada kedua golongan tersebut tidak naik.
"Saya pastikan tarif rumah tangga untuk 1.300 sampai 2.200 tidak akan naik hingga akhir tahun," kata Direktur Utama PLN Sofyan Basir beberapa waktu lalu.