"Bukan kesalahan tim ekonomi, tapi masalah dunia, kita tidak bisa salahkan orang per orang," kata Kalla usai memberikan sambutan dalam acara IIF Summit di Jakarta, Kamis (7/4).
Wakil Presiden juga menyoroti penyebab lambatnya pergerakan ekonomi di awal tahun lebih disebabkan karena persiapan administrasi pemerintah yang telat dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) yang baru disahkan bulan Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun menyebut tiga kunci khusus untuk membuka peluang tercapainya target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen hingga akhir tahun. Tiga kunci tersebut yakni belanja pemerintah yang harus segera dilaksanakan, menarik investasi publik maupun pemerintah serta memicu konsumsi masyarakat.
"Investasi naik sedikit, otomatis konsumsi di level masyarakat stabil," katanya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,71 persen pada kuartal I 2015 dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year). Artinya perekonomian nasional melambat jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,14 persen secara tahunan. (Baca: FOKUS Sinyal Buruk Ekonomi Jokowi)
Kepala BPS Suryamin mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 2.724 triliun. Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang belum menggembirakan.
Menurutnya, sumber sentimen negatif yang paling berpengaruh adalah perlambatan ekonomi Tiongkok dan Singapura, yang selama ini menjadi mitra dagang utama Indonesia baik ekspor maupun impor.