Menurut Djonnie, harga motor Harley Davidson di Indonesia merupakan yang paling mahal di dunia. Sebab, total pajak yang harus dibayarkan oleh ATPM dan pembeli motor Harley Davidson mencapai 215 persen dari harga riilnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Djonnie mengaku pihaknya hanya berhasil menjual sekitar 400 unit Harley Davidson pada tahun lalu, anjlok 50 persen jika dibandingkan rata-rata penjualan tahun sebelumnya 800 cc. Tahun ini, parasnya semakin lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Harley Davidson, jelas Djonnie, merupakan merek motor yang telah melegenda di dunia. Menungganginya merupakan gengsi bagi pemiliknya, yang rata-rata membeli karena hobi. Karena faktor itu pula yang membuat permintaan motor gede ini cenderung sulit untuk meningkat karena orang sudah merasa cukup hanya dengan membeli satu unit.
"Jadi orang yang punya Harley itu tidak memilih untuk membeli lagi, cukup hanya satu yang dimilikinya," tuturnya.
Sebagai informasi, pada akhir 2014 lalu Harley Davidson memilih untuk menutup pabrik perakitannya di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Tingginya biaya operasional menjadi salah satu alasan penutupan pabrik oleh prinsipal motor premium asal Amerika Serikat ini. (ags/gir)