Berdasarkan laporan keuangan Garuda Indonesia yang dikutip pada Sabtu (9/5), pendapatan usaha perseroan pada kuartal I 2015 naik menjadi US$ 927,32 juta, dari US$ 817,41 juta di periode yang sama 2014.
Setelah ditilik, pertumbuhan tersebut dikontribusi secara signifikan dari melonjaknya pendapatan penerbangan tidak berjadwal pada kuartal I 2015 menjadi US$ 39,20 juta, melompat 1.275,43 persen dari capaian periode yang sama 2014 senilai US$ 2,85 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Citilink Berencana IPO di Papan Pengembangan pada 2016
Lebih lanjut, pada kuartal I tahun ini Garuda Indonesia mampu mencetak keuntungan selisih kurs sebesar US$ 18,99 juta. Padahal pada tiga bulan pertama tahun lalu, perseroan masih mencetak kerugian selisih kurs mencapai US$ 34,31 juta.
Alhasil, keseluruhan performa tersebut mampu membuat maskapai yang tergabung dalam aliansi SkyTeam ini mencetak laba usaha sebesar US$ 30,69 juta pada kuartal I 2015, dari rugi usaha US$ 195,26 dalam tiga bulan pertama 2014.
Pilihan Redaksi |
Sebelumnya, Garuda Indonesia berencana mencantumkan seluruh harga tiket yang dijualnya melalui laman resmi perusahaan dengan denominasi rupiah. Hal tersebut untuk memenuhi Peraturan Bank Indonesia (BI) Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terbit 31 Maret 2015.
Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan maskapai yang dipimpinnya berkomitmen mendukung penggunaan rupiah untuk seluruh transaksinya di dalam negeri. Arif menilai kewajiban penggunaan rupiah tersebut diyakini bisa memperkuat nilai tukarnya terhadap dolar Amerika Serikat.
“Jika rupiah menguat dan stabil, tentu akan berdampak positif langsung kepada industri penerbangan karena daya beli masyarakat membaik,” ujar Arif belum lama ini. (gir/adt)