Jika dibandingkan dengan HBA di periode yang sama tahun lalu di angka US$ 73,60 per ton, HBA Mei 2015 diketahui anjlok sekitar US$ 12,52 per ton. Merosotnya HBA di periode Mei tak lepas dari masih banyaknya pasokan batubara di pasar dunia.
Sekedar informasi, HBA merupakan rata-rata dari empat indeks harga batubara yang umum digunakan di pasar batubara internasional. Empat indeks tersebut meliputi: Indonesia Coal Index, Platts Index, New Castle Export Index, serta New Castle Global Coal Index. HBA sendiri menjadi acuan dengan kesetaraan nilai kalori batubara di level 6.322 kkal/kg Gross As Received (GAR), kandungan air sebesar 8 persen, keberadaan sulphur mencapai 0,8 persen as received (ar), serta kandungan abu (ash) sekitar 15 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Gunung Bayan I: US$ 65,36 per ton.
2. Prima Coal: US$ 66,72 per ton.
3. Pinang 6150: US$ 60,27 per ton.
4. Indominco IM_East: US$ 50,14 per ton.
5. Melawan Coal: US$ 49,55 per ton.
6. Enviro Coal : US$ 47,18 per ton.
7. Jorong J-1: US$ 37,96 per ton.
8. Ecocoal: US$ 34,88 per ton.
Selain delapan merek batubara diatas, tiap bulannya Ditjen Minerba Kementerian ESDM juga menetapkan HPB untuk 66 merek dagang batubara lain seperti: Trubaindo HCV_LS, SKB Coal, KCM Coal, Agathis, dan LIM 3010. Sementara untuk tenor penjualan batubara, dilakukan secara jangka tertentu dengan jangka waktu 12 bulan atau lebih dengan mengacu pada rata-rata tiga HBA terakhir.
Sementara yang menjadi faktor penetapan harga didasarkan pada faktor pengali 50 persen untuk HPB bulan terakhir, faktor pengali 30 persen untuk HPB satu bulan sebelumnya, dan faktor pengali 20 persen untuk HPB dua bulan sebelumnya.